Alasan Warga RI Diangkat Jadi Menteri di Belanda

Ario Soejono menjadi warga Indonesia pertama yang diangkat sebagai menteri di Belanda pada 1942.

Aug 31, 2026 20:00 · 1 bulan lalu
Alasan Warga RI Diangkat Jadi Menteri di Belanda
Alasan Warga RI Diangkat Jadi Menteri di Belanda/ SPUN

INFOBAIK I JAKARTA – Nama Ario Soejono tercatat dalam sejarah sebagai warga Indonesia pertama yang dipercaya masuk ke pemerintahan Belanda.

Ia diangkat menjadi menteri tanpa departemen dalam kabinet Perdana Menteri Belanda Pieter Sjoerd Gerbrandy pada 6 Juni 1942. 

Pengangkatan tokoh asal Tulungagung, Jawa Timur, tersebut berlangsung ketika Belanda berada dalam pengasingan di London setelah wilayahnya diduduki Nazi Jerman. Di tengah situasi perang, pemerintah Belanda memiliki kepentingan untuk menunjukkan adanya keterikatan nasib antara Belanda dan Indonesia.

Baca Juga: Semua Warga Desa di Garut Ini Ternyata Keturunan Belanda

Menurut Harry A. Poeze dalam buku Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda, 1600-1950 (2008), masuknya Soejono ke kabinet Gerbrandy dimaksudkan untuk menegaskan ikatan nasib antara kedua wilayah tersebut.

Gerbrandy bahkan menyebut pengangkatan Soejono sebagai sebuah momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya seorang putra Indonesia menjadi bagian dari pemerintahan Belanda.

Meski menyandang jabatan menteri, Soejono bukan memimpin kementerian tertentu. Statusnya merupakan menteri tanpa departemen. Posisi tersebut sekaligus menjadi cara pemerintah Belanda memasukkan representasi Indonesia ke dalam koalisi pemerintahan.

Namun, alasan Soejono menerima posisi tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kepentingan pemerintah Belanda. Ia justru memanfaatkan kedudukannya untuk menyampaikan aspirasi mengenai masa depan Indonesia setelah Perang Dunia II.

Karier Ario Soejono Sebelum Jadi Menteri

Soejono lahir di Tulungagung pada 31 Maret 1886 dari keluarga berada. Ayahnya merupakan Bupati Tulungagung sehingga Soejono memiliki kesempatan memperoleh pendidikan dan membangun karier di pemerintahan kolonial.

Ia mengawali karier sebagai asisten wedana pada 1911. Empat tahun kemudian, Soejono dipercaya menjadi Bupati Pasuruan pada usia sekitar 30 tahun dan menduduki jabatan tersebut hingga 1927.

Karier politiknya juga berkembang setelah ia menjadi anggota Volksraad pada periode 1920-1930. Pengalaman sebagai birokrat dan politisi membuatnya dikenal sebagai salah satu pejabat Indonesia yang diperhitungkan pada masa pemerintahan kolonial.

Soejono beberapa kali melakukan perjalanan ke Belanda untuk mengikuti seminar dan pelatihan. Ketika Jepang menyerbu Hindia Belanda pada 1942, situasi berubah drastis.

Soejono kemudian meninggalkan Jawa menuju Australia bersama van Mook dan Loekman Djajadiningrat. Dari Australia, ia melanjutkan perjalanan ke London, tempat pemerintahan Belanda berada dalam pengasingan.

Soejono Justru Dorong Indonesia Merdeka

Setelah bergabung dengan kabinet Gerbrandy, Soejono tidak hanya menjadi simbol keterwakilan Indonesia. Ia menyampaikan pandangan mengenai bentuk hubungan Indonesia dan Belanda setelah perang.

Soejono menilai masyarakat Indonesia menginginkan hubungan dengan Belanda berakhir. Karena itu, ia mendorong agar masa depan Indonesia tidak ditentukan sepihak oleh pemerintah Belanda.

Gagasan tersebut bahkan melampaui usulan hubungan yang lebih setara antara Belanda dan wilayah jajahannya.

Menurut Martin Bossenbroek dalam Pembalasan Dendam Diponegoro (2023), Soejono menilai gagasan mengenai hubungan ketatanegaraan yang lebih longgar masih belum cukup. Ia menginginkan Indonesia merdeka sepenuhnya.

Pandangan tersebut tidak mendapatkan dukungan dari Gerbrandy dan sejumlah anggota kabinet lainnya. Meski tuntutannya berulang kali diabaikan, Soejono tidak memilih meninggalkan pemerintahan.

Ia tetap mempertahankan posisinya sembari menyuarakan kepentingan Indonesia. Perjuangannya di London berlangsung singkat karena Soejono meninggal dunia pada 5 Januari 1943.

Meski hanya beberapa bulan menjadi bagian dari kabinet Belanda, Ario Soejono meninggalkan catatan penting dalam sejarah hubungan Indonesia-Belanda. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang duduk dalam pemerintahan Belanda, sekaligus menggunakan posisi tersebut untuk menyuarakan gagasan mengenai masa depan Indonesia.