Jokowi-Dedi Mulyadi, Ada Sinyal Politik di Jabar

Kedekatan Jokowi dan Dedi Mulyadi menjadi sorotan politik di Jawa Barat. Relasi keduanya disebut berpotensi berdampak pada peta kekuatan PSI menuju 2029.

Oct 6, 2026 16:00 · 3 jam lalu
Jokowi-Dedi Mulyadi, Ada Sinyal Politik di Jabar
Jokowi-Dedi Mulyadi, Ada Sinyal Politik di Jabar/ KOMPAS.com

INFOBAIK I BANDUNG – Kedekatan politik antara Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mulai menjadi perhatian menjelang dinamika politik nasional 2029.

 Relasi kedua tokoh tersebut dinilai berpotensi memberikan dampak terhadap peta kekuatan politik, termasuk bagi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Jawa Barat.

Mantan Direktur BAIS TNI, Brigjen TNI (Purn) H. Poernomo, menilai hubungan Jokowi dan Dedi Mulyadi cukup baik. Kondisi tersebut, menurut dia, dapat menjadi modal politik apabila ada upaya memperkuat pengaruh PSI di Jawa Barat.

"Apalagi Gubernur KDM Pak Dedi cukup baik hubungannya dengan Pak Jokowi. Harapannya mungkin dengan Gubernur ini masih dekat sama Pak Jokowi, harapannya Gubernur mampu mendorong," kata Poernomo melalui kanal YouTube Obor Rakyat Reborn, dikutip Senin (5/10/2026).

BACA JUGA::Nomor KTA Jokowi di PSI Jadi Sorotan, Ada Deretan Angka 7 yang Tak Biasa

Sorotan terhadap hubungan keduanya menguat setelah Jokowi tercatat dua kali mengunjungi Jawa Barat sepanjang September 2026.

Pada awal September, Jokowi melakukan safari politik di Cirebon. Kemudian pada akhir September, dia menghadiri Rakorda DPD PSI Jawa Barat di Hotel Grand Pasundan. Dalam kesempatan tersebut, Jokowi juga secara terbuka memperlihatkan Kartu Tanda Anggota (KTA) PSI miliknya.

Rangkaian aktivitas tersebut membuat posisi Jawa Barat semakin penting dalam kalkulasi politik nasional. Provinsi dengan jumlah pemilih besar ini kerap menjadi salah satu wilayah strategis dalam perebutan dukungan politik pada pemilu nasional.

Di sisi lain, nama Dedi Mulyadi juga semakin sering muncul dalam pembahasan mengenai peta kandidat Pilpres 2029. Sejumlah survei yang dikutip dalam pemberitaan tersebut menunjukkan elektabilitas Gubernur Jawa Barat itu berada pada posisi kompetitif.

Survei Tempo Data Science yang dirilis 26 Agustus 2026, misalnya, mencatat elektabilitas Dedi Mulyadi sekitar 41-42 persen dalam simulasi terbuka kandidat presiden. Angka tersebut berada di atas Prabowo Subianto yang berada di kisaran 15 persen dalam simulasi yang sama.

Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan pada 5-19 Juli 2026 juga menunjukkan posisi Dedi cukup kuat. Dalam simulasi semi-terbuka, Dedi memperoleh elektabilitas 35 persen, sementara Prabowo berada di angka 14,5 persen.

Meski demikian, hasil survei tersebut belum dapat dimaknai sebagai keputusan politik final untuk Pilpres 2029. Konstelasi politik masih sangat mungkin berubah seiring perkembangan koalisi, kebijakan pemerintahan, serta munculnya kandidat lain.

Bagi PSI, Jawa Barat juga memiliki arti strategis. Dukungan atau kedekatan dengan figur yang memiliki basis elektoral kuat di daerah dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi upaya partai memperluas pengaruh politiknya.

Namun, sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari Dedi Mulyadi yang menyatakan dirinya akan menjadi bagian dari strategi politik PSI maupun memberikan dukungan politik tertentu kepada partai tersebut.

Dengan demikian, dugaan mengenai peran Dedi dalam memperkuat PSI di Jawa Barat masih berada pada ranah analisis politik. Yang jelas, pertemuan dan kedekatan sejumlah tokoh politik nasional dengan Dedi membuat posisi Gubernur Jawa Barat semakin diperhitungkan dalam membaca arah politik nasional menuju 2029.