Aplikasi Telkom Atasi Tantangan Pendidikan di Pedalaman NTT
Keterbatasan akses dan infrastruktur di wilayah terpencil terbukti dapat diatasi dengan inovasi digital, seperti aplikasi pendidikan daring Pijar Sekolah dari PT Telkom.
INFOBAIK I BANDUNG – Keterbatasan akses dan infrastruktur di wilayah terpencil terbukti dapat diatasi dengan inovasi digital, seperti aplikasi pendidikan daring Pijar Sekolah dari PT Telkom.
Roni Hariyanto Bhidju, seorang guru di SDN Fatubai, Desa Oehalo, Kecamatan Insana Tengah, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu bukti nyata manfaat teknologi ini. Mengajar di wilayah dengan fasilitas terbatas, Roni menemukan solusi digital untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolahnya.
“Saya melihat kehidupan masyarakat di sini cukup prihatin. Mayoritas orang tua siswa hanya tamat SD dan bekerja sebagai petani atau kuli bangunan,” ujar Roni dalam keterangan resminya, Jumat (6/12/2024).
Roni bertekad membawa perubahan melalui dua cara yakni meningkatkan kompetensi guru dan meningkatkan kemampuan belajar siswa. Salah satu langkah strategisnya adalah memanfaatkan platform Pijar Sekolah. Dengan fitur lengkap, seperti sumber belajar, modul pembelajaran, hingga video edukasi, aplikasi ini tidak hanya meringankan beban kerja Roni, tetapi juga membuka peluang kreativitas dalam proses pengajaran.
“Sebelumnya saya harus membuat e-learning sendiri yang memakan waktu berjam-jam. Dengan Pijar Sekolah, saya bisa lebih fokus pada pengembangan materi, karena fitur-fiturnya sangat membantu,” katanya
Meski berada di daerah tanpa jaringan internet sekolah, Roni tetap mampu mengoptimalkan teknologi dengan memanfaatkan perangkat seperti proyektor dan aplikasi presentasi. Ia bahkan membuat modul pembelajaran gratis untuk siswanya.
Komitmennya terhadap pendidikan juga tercermin dari prestasinya masuk sepuluh besar ajang Guru Unggul se-Indonesia. Melalui Pijar Sekolah, ia mendapat kesempatan mengikuti pelatihan seperti bootcamp pembuatan video pembelajaran dan teknik berbicara di depan publik, yang makin meningkatkan kompetensinya.
Berdasarkan Permendikbud Ristek No. 25 Tahun 2024, beban kerja guru cukup berat, termasuk mengajar tatap muka minimal 24 jam per minggu. Namun, Roni menilai tantangan ini dapat diatasi dengan sikap dinamis dan penguasaan teknologi.
“Proses belajar mengajar tidak cukup hanya text book belaka. Pengajaran kreatif mutlak dibutuhkan, dan Pijar Sekolah sangat membantu saya dalam hal tersebut,” tutupnya.
Inovasi seperti Pijar Sekolah menjadi bukti bahwa teknologi mampu menjembatani keterbatasan, membawa perubahan signifikan, dan memperkuat sistem pendidikan, bahkan di wilayah terpencil.
