Bio Farma Kembangkan Platform mRNA untuk Percepat Pengembangan Vaksin
Bio Farma memperkuat riset vaksin melalui pengembangan platform teknologi mRNA dan kolaborasi untuk mempercepat inovasi serta memperluas akses produk kesehatan.
INFOBAIK I BANDUNG,- PT Bio Farma terus memperkuat kapasitas riset dan pengembangan vaksin dengan membangun sejumlah platform teknologi, termasuk teknologi messenger RNA (mRNA) yang dinilai dapat mempercepat proses pengembangan produk vaksin.
Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya menjelasnka platform tersebut menjadi salah satu kapabilitas yang dikembangkan Bio Farma melalui dukungan dan kerja sama internasional.
"Selain mesin mRNA, dukungan juga mencakup pengembangan kapabilitas serta produk yang menggunakan teknologi tersebut,"katanya, Rabu (16/9/2026)
BACA JUGA: Bio Farma Raih Penghargaan Reputasi 2026, Kapabilitas Jadi Fondasi Kepercayaan
Teknologi mRNA telah menunjukkan perannya dalam mempercepat pengembangan vaksin, terutama saat pandemi COVID-19. Dengan memiliki platform tersebut, perusahaan berupaya meningkatkan kemampuan dalam menghasilkan produk vaksin secara lebih cepat.
Dalam kondisi normal, pengembangan satu produk vaksin membutuhkan waktu sekitar tujuh tahun. Proses tersebut mencakup tahapan riset dari hulu, pra-klinis, uji klinis fase I hingga fase III, serta proses registrasi.
"Kalau untuk membuat satu vaksin yang selama ini dirasakan, yang normal adalah tujuh tahun. Itu adalah yang paling cepat," ujarnya
Menurutnya, pengembangan vaksin membutuhkan waktu panjang karena setiap tahapan harus dilakukan secara bertahap untuk memastikan keamanan, mutu, dan efektivitas produk sebelum dapat digunakan secara luas.
Untuk mempercepat proses tersebut, Bio Farma juga membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi yang memiliki kemampuan dan minat melakukan riset di bidang biosimilar maupun life science.
"Pada saat universitas itu memiliki kemampuan, memiliki keinginan untuk melakukan riset terhadap biosimilar ataupun life science, kita bisa melakukan kerja sama," katanya.
Selain perguruan tinggi, Bio Farma juga menjalin kolaborasi dengan berbagai lembaga di dalam dan luar negeri. Kerja sama tersebut antara lain dilakukan dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta mitra internasional, termasuk GAVI.
Penguatan platform riset tersebut menjadi bagian dari strategi Bio Farma untuk memperluas kapasitas pengembangan produk sekaligus mendukung akses kesehatan di dalam negeri.
Sebagai perusahaan BUMN, Bio Farma menempatkan pengembangan kebutuhan kesehatan nasional sebagai salah satu prioritas. Setelah memenuhi kebutuhan dalam negeri, perusahaan juga berupaya memperluas akses produk melalui pasar ekspor.
Bio Farma sebelumnya telah memiliki produk yang digunakan di sekitar 150 negara. Namun, capaian tersebut dinilai belum sepenuhnya menjadikan perusahaan sebagai korporasi global sehingga transformasi masih diperlukan, termasuk dari sisi tata kelola, proses bisnis, dan pola pikir sumber daya manusia.
Dalam proses transformasi tersebut, manajemen risiko juga ditempatkan sebagai bagian penting dalam kegiatan bisnis. Penerapan standar operasional prosedur (SOP), manajemen risiko, hingga fungsi audit menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola perusahaan.
"Auditor menjadi band terakhir dalam hal kita membuat satu environment good corporate governance yang ada di perusahaan BUMN," ujarnya.
Bio Farma menargetkan penguatan tata kelola dan transformasi bisnis tersebut dapat berjalan seiring dengan peningkatan kemampuan teknologi, sehingga perusahaan tidak hanya memiliki produk berstandar global, tetapi juga mampu menjalankan proses bisnis dengan standar global.
