Bio Farma Perkuat Pencegahan Demam Tifoid lewat Bio-TCV,
Bio Farma memperkuat pencegahan demam tifoid melalui Bio-TCV
INFOBAIK I BANDUNG ,– Bio Farma memperkuat upaya pencegahan demam tifoid di Indonesia dengan menghadirkan Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat produksi dalam negeri yang dikembangkan melalui riset, uji klinis, dan standar regulasi yang ketat. Kehadiran Bio-TCV menjadi bagian dari strategi memperkuat ekosistem pencegahan penyakit menular sekaligus mendukung kemandirian industri vaksin nasional.
Demam tifoid masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit yang disebabkan bakteri Salmonella typhi tersebut berkaitan dengan sanitasi, akses air bersih, keamanan pangan, perilaku hidup bersih dan sehat, serta penanganan medis yang tepat. Karena itu, Bio Farma menempatkan vaksinasi sebagai bagian dari upaya pencegahan yang terintegrasi bersama edukasi, sanitasi, dan peningkatan kualitas lingkungan.
Direktur Komersial Bio Farma, Fitri Puspadewi, mengatakan perusahaan mengembangkan Bio-TCV dengan mengedepankan prinsip Availability, Accessibility, Affordability, dan Acceptance agar manfaat vaksin dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
"Bio Farma terus memperkuat kapasitas produksi nasional untuk menjamin ketersediaan Bio-TCV secara berkelanjutan. Perusahaan juga memperluas akses melalui penguatan pasar nasional serta menjajaki dukungan terhadap Program Imunisasi Nasional,"katanya, Sabtu (18/7/2026)
Selain itu, Bio Farma menghadirkan vaksin berkualitas dengan harga yang kompetitif serta membangun penerimaan masyarakat melalui kolaborasi bersama organisasi profesi, fasilitas pelayanan kesehatan, akademisi, dan edukasi berbasis bukti ilmiah.
Pengembangan Bio-TCV juga memperoleh dukungan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI. Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menegaskan BPOM terus mendampingi inovasi vaksin nasional dengan tetap memastikan seluruh produk memenuhi standar mutu, keamanan, dan khasiat.
Ia menambahkan, pengakuan BPOM sebagai WHO Listed Authority untuk fungsi regulasi vaksin memperkuat kepercayaan terhadap sistem regulasi Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing industri vaksin nasional di pasar global.
Sementara itu, Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI Andi Saguni menegaskan pencegahan tifoid harus dilakukan secara menyeluruh melalui perbaikan sanitasi, keamanan pangan, edukasi masyarakat, deteksi dini, diagnosis yang akurat, tata laksana medis, surveilans, hingga vaksinasi sesuai kebijakan yang berlaku.
Menurutnya, pemerintah akan melakukan kajian komprehensif apabila mempertimbangkan vaksin tifoid masuk dalam Program Imunisasi Nasional, dengan memperhatikan data epidemiologi, beban penyakit, rekomendasi ahli, manfaat kesehatan masyarakat, kesiapan program, dan ketersediaan sumber daya.
Dukungan ilmiah terhadap Bio-TCV juga datang dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-AI, FINASIM, menyatakan PAPDI merekomendasikan vaksin tifoid konjugat bagi orang dewasa berusia 18 tahun ke atas, terutama kelompok dengan risiko tinggi terpapar atau menularkan infeksi tifoid.
Rekomendasi tersebut didasarkan pada bukti ilmiah yang menunjukkan Bio-TCV memiliki profil keamanan yang baik, mampu memicu respons imun yang kuat, serta berpotensi memberikan perlindungan yang lebih lama.
Pengembangan Bio-TCV juga melalui tahapan penelitian yang panjang. Produk tersebut berawal dari kerja sama riset dan transfer teknologi pada 2013, dilanjutkan studi praklinis, uji klinis fase I, II, dan III, hingga memperoleh izin edar dari BPOM pada 20 Agustus 2023.
Principal Investigator Vaksin Bio-TCV dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH, menjelaskan uji klinis fase III melibatkan 3.071 peserta berusia enam bulan hingga 60 tahun. Hasil penelitian menunjukkan Bio-TCV memiliki profil keamanan dan imunogenisitas yang baik sesuai standar ilmiah dan etika penelitian.
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma kini terus meningkatkan kapasitas riset, inovasi, dan fasilitas produksi vaksin berbasis teknologi konjugasi. Langkah tersebut bertujuan memenuhi kebutuhan vaksin di dalam negeri sekaligus membuka peluang ekspansi ke pasar internasional melalui proses WHO Prequalification dan registrasi di berbagai negara.
Peluncuran Bio-TCV menegaskan komitmen Bio Farma dalam memperkuat kedaulatan vaksin nasional melalui penguasaan teknologi, pengembangan riset, peningkatan kapasitas produksi, serta perluasan akses masyarakat terhadap vaksin yang aman, bermutu, dan berkualitas.
