Ekosistem Ayam Petelur Jabar Buka Potensi KUR Rp456,5 Miliar
Ekosistem ayam petelur Jawa Barat membuka potensi KUR Rp456,5 miliar bagi 4.565 pelaku usaha untuk memperkuat pembiayaan dan rantai pasok.
INFOBAIK I BANDUNG, – Pengembangan ekosistem ayam petelur di Jawa Barat membuka peluang penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Rp456,5 miliar.
Potensi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pembiayaan sekaligus memperkuat rantai usaha peternakan ayam petelur dari hulu hingga hilir.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat Darwisman mengatakan potensi pembiayaan tersebut dihitung berdasarkan keterlibatan 4.665 pelaku usaha ternak ayam petelur, baik perorangan maupun perseroan, yang tersebar terutama di 21 sentra peternakan ayam petelur di Jawa Barat.
BACA JUGA:OJK Dorong Perbankan Perluas Pembiayaan Peternakan Jabar
Menurutnya, proyeksi KUR tersebut menggunakan asumsi skema KUR mikro hingga Rp100 juta yang tidak mensyaratkan agunan tambahan. Skema tersebut diharapkan dapat memperluas akses pembiayaan bagi peternak untuk mengembangkan kapasitas usahanya.
"Potensi peningkatan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari perbankan diproyeksikan sebesar Rp456,5 miliar," ujar Darwisman dalam kegiatan implementasi pengembangan komoditas unggulan melalui layanan inklusi keuangan di Jawa Barat, Jumat (25/9/2026).
Program yang mengusung tema Endog Jabar Global, Ti Lembur Ka Jabar Ngawangun Ekonomi Jabar Istimewa tersebut merupakan bagian dari program pengembangan ekonomi daerah yang melibatkan pemerintah daerah, industri jasa keuangan, pelaku usaha, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya.
Darwisman menjelaskan, pengembangan ayam petelur tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan akses pembiayaan, tetapi membangun ekosistem usaha terpadu yang memberikan nilai tambah mulai dari sisi hulu hingga hilir.
"Implementasi program dilakukan melalui pembentukan ekosistem yang terintegrasi dengan memberikan nilai tambah dari hulu hingga hilir sehingga mampu memberikan dampak riil terhadap perekonomian dan tidak hanya berhenti pada peningkatan akses keuangan semata," katanya.
Dari sisi peternakan, program tersebut diproyeksikan memberikan tambahan pendapatan bagi pelaku usaha. OJK Jawa Barat memperkirakan peternak dengan populasi sekitar 2.000 ayam petelur berpotensi memperoleh pendapatan sekitar Rp34,88 juta per bulan.
Selain pembiayaan, penguatan rantai pasok telur juga diarahkan untuk mendukung kebutuhan pangan, termasuk memasok telur secara langsung kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Darwisman menyebut pola kemitraan langsung antara peternak dan SPPG berpotensi menghasilkan harga telur sekitar 10%-15% lebih rendah per kilogram dibandingkan pembelian melalui pasar. Dengan asumsi tersebut, ekosistem ayam petelur di Jawa Barat diproyeksikan dapat berkontribusi terhadap efisiensi anggaran pemerintah untuk program MBG hingga sekitar Rp4,23 triliun per tahun.
"Ini memberikan manfaat harga telur yang lebih rendah sebesar 10% sampai 15% per kilogram dibandingkan kalau SPPG harus membeli langsung ke pasar," ujarnya.
Penguatan rantai nilai juga dilakukan dengan mendorong pengolahan telur menjadi produk bernilai tambah. Sejumlah produk yang dikembangkan antara lain tepung telur, produk sarapan, pupuk berbahan cangkang telur, serta nutrisi untuk hewan peliharaan.
Pengolahan tersebut dinilai dapat menjadi salah satu solusi atas karakteristik telur segar yang memiliki masa simpan relatif terbatas. Dengan mengolah telur menjadi produk turunan, pelaku usaha memiliki alternatif untuk mengurangi potensi kerugian akibat telur yang tidak terserap pasar dalam waktu singkat.
Di sisi perdagangan, komoditas ayam petelur Jawa Barat juga mulai diarahkan untuk memperluas pasar ekspor. Pada semester I 2026, ekspor live export dan produk terkait telur dari Jawa Barat tercatat meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan tujuan antara lain Myanmar, Brunei Darussalam, dan Malaysia.
Pada kegiatan tersebut juga dilakukan peresmian ekspor 7.000 ekor day-old chick (DOC) dan 6,3 ton produk olahan ke Timor-Leste dengan nilai sekitar USD22.000. DOC tersebut juga diproyeksikan dikirim ke sejumlah negara lain seperti Myanmar, Brunei Darussalam, dan Malaysia.
Menurut Darwisman, penguatan ekosistem tersebut penting karena pelaku usaha ayam petelur masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari tingginya harga pakan, fluktuasi harga telur, hingga keterbatasan akses pembiayaan untuk pengembangan usaha.
OJK mencatat baru 39 pelaku usaha ternak ayam petelur yang telah memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV). Perluasan kepemilikan NKV, pengembangan industri tepung telur, peningkatan produk bernilai tambah, serta pembukaan pasar ekspor dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat daya saing industri.
Program pengembangan ekonomi daerah dengan komoditas unggulan ayam petelur tersebut melibatkan perbankan dan lembaga jasa keuangan, termasuk Bank BJB, BNI, dan Bank Mandiri, bersama pemerintah daerah, pelaku usaha, eksportir dan pemangku kepentingan lainnya.
Darwisman mengatakan kolaborasi lintas sektor diperlukan agar pengembangan komoditas ayam petelur tidak berjalan secara parsial. Penguatan ekosistem tersebut juga diharapkan dapat direplikasi pada sentra produksi ayam petelur di wilayah lain di Indonesia.
"Melalui sinergi lintas sektor, program pengembangan ekonomi daerah dengan komoditas unggulan diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," pungkasnya.
