Ekosistem Ketahanan Pangan Terintegrasi Dinilai Mampu Hadapi Tekanan Inflasi Global

Aug 6, 2022 00:10 · 4 tahun lalu
Ekosistem Ketahanan Pangan Terintegrasi Dinilai Mampu Hadapi Tekanan Inflasi Global
Kepala BI Jabar, Herawanto

INFOBAIK.ID I BANDUNG,-  Momentum pemulihan ekonomi baik global, nasional maupun Jawa Barat, dihadapkan pada tantangan akibat berbagai gejolak eksternal diantaranya eskalasi tensi geopolitik Rusia Ukraina, kebijakan Zero Covid-19 di Tiongkok dan kebijakan food protectionism. 

Hingga saat ini tercatat beberapa negara telah menerapkan kebijakan food protectionism pada komoditas pangan dunia. Jika berlanjut, kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan inflasi global yang berpotensi menahan pemulihan ekonomi serta mendorong potensi risiko stagflasi. .

BPS Jabar mencatat pada Juli 2022, Provinsi Jawa Barat tercatat inflasi sebesar 4,94% (yoy), yang utamanya bersumber dari peningkatan harga kelompok bahan makanan (volatile food). Untuk itu, berbagai upaya dalam menjaga ketahanan pangan di daerah menjadi sangat penting guna menjaga dan meningkatkan momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mengantisipasi potensi tekanan inflasi. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Herawanto, mengatakan  melalui Ekosistem Ketahanan Pangan Terintegrasi (Pangsi) ini, kelompok masyarakat seperti pondok pesantren, kelompok tani dan kelompok masyarakat yang berfokus pada sisi hulu produk pertanian, perikanan budidaya, perikanan tangkap, pembenihan dan pembibitan, akan didorong untuk dapat memiliki produk kemasan atau produk olahan turunan yang bernilai tambah melalui pendampingan dan kemitraan oleh pemerintah daerah, Kementerian/Lembaga, Bank Indonesia, lembaga pendidikan hingga perbankan.

Selain itu, guna mendorong efisiensi dan efektifitas proses bisnis sekaligus meningkatkan daya saing, seluruh pihak yang terlibat dalam Ekosistem Pangsi 

"Ini  akan didorong untuk mengakselerasi implementasi digitalisasi secara end-to-end mulai dari sisi produksi-pasca produksi-pemasaran-pembayaran-pembiayaan melalui implementasi smart farming, smart fishery, packing house, refrigerated logistic, hingga optimalisasi penggunaan digital banking services,"kata Herawanto kepada wartawan secara daring usai mengikuti High Level Meeting (HLM) Ekosistem Ketahanan Pangan Terintegrasi (Pangsi) bertajuk “Sukabumi Project”, di Kota Sukabumi, Jumat (5/8/2022)

HLM Ekosistem Pangsi – Sukabumi Project ini merupakan langkah awal sinergi hexa-helix kolaboratif Pemerintah Kota Sukabumi, Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Bank Indonesia Jawa Barat, Perbankan Lembaga Pendidikan dan asosiasi dengan kelompok masyarakat yang bersifat inklusif diantaranya meliputi pondok pesantren, kelompok masyarakat subsisten, kelompok tani hingga desa wisata yang berada di wilayah Kota/Kabupaten Sukabumi.

"Dalam jangka panjang, implementasi Ekosistem Pangsi tersebut menjadi kunci dalam mengantisipasi potensi tekanan inflasi,"ungkapnya

Herawanto mengungkapkan Ekosistem Pangsi ini juga diintegrasikan dengan sektor pariwisata Sukabumi melalui desa wisata berkonsep agrowisata sehingga tidak hanya menyajikan keindahan alam wisata sebagai atraksi utama wisatawan, namun juga turut berkontribusi dalam penguatan ketahanan pangan melalui atraksi wisata lainnya yang menyajikan user experiences bagi para wisatawan mengenai proses hulu-hilir produk pangan hingga produk olahan pangan dalam lingkup konsep agrowisata. 

"Dengan terhubungnya berbagai peran kelompok masyarakat yang berada dalam Ekosistem Pangsi ini, maka lini usaha serta proses bisnis para kelompok masyarakat terutama dalam rangka menjaga ketahanan pangan tersebut akan semakin berdaya saing,"ungkapnya 

Adapun, Wakil Walikota Sukabumi, Andri Setiawan Hamami, mengatakan seluruh jajaran Pemerintah Kota dan Kabupaten Sukabumi serta seluruh stakeholders terkait di wilayah Sukabumi siap untuk bersinergi dengan Bank Indonesia dan secara konsisten mendukung implementasi Ekosistem Pangsi melalui berbagai program pengembangan dan pendampingan kepada pondok pesantren, kelompok masyarakat dan kelompok tani untuk mendorong pengembangan sektor pertanian, perikanan, maritim dan pariwisata. 

"Efisiensi dan efektivitas proses bisnis antar kelompok masyarakat yang tergabung dalam Ekosistem Pangsi ini menjadi langkah yang sangat strategis, dalam upaya mewujudkan ekosistem yang terintegrasi sehingga mampu menciptakan daya saing unggul yang dapat memberikan andil pada ketahanan pangan,"jelasnya 

Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Sukabumi, Iyos Somantri menilai bahwa Ekosistem Pangsi ini menjadi sebuah potensi besar bagi kelompok masyarakat yang tergabung dalam ekosistem, guna pengembangan sektor pertanian, perikanan, maritim dan pariwisata di Kabupaten Sukabumi. 

"Penguatan Ekosistem Pangsi juga perlu dikaitkan dengan optimalisasi implementasi Perdagangan Antar Daerah dalam kerangka Kerjasama Antar Daerah (KAD) sehingga kebermanfaatan ekosistem dalam mengantisipasi potensi tekanan inflasi ini dapat dirasakan tidak hanya bagi masyarakat wilayah Sukabumi, melainkan hingga ke Provinsi Jawa Barat dan Nasional,"pungkasnya