Gastronomi Solusi Hadapi Krisis Pangan Global

Feb 18, 2023 15:00 · 4 tahun lalu
Gastronomi Solusi Hadapi Krisis Pangan Global
Lomba makanan berbahan pangan lokal

INFOBAIK.ID I BANDUNG,- Pemulihan Ekonomi Daerah (KPED) Jawa Barat ditugaskan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat untuk melakukan kolaborasi dan inovasi mencari solusi dalam pemulihan dan transformasi ekonomi di Jawa Barat. 

Sejak dua tahun pandemi Covid-19 secara bertahap pihaknya belajar banyak bagaimana peran masyarakat yang harus didorong ke depan. Salah satunya, pencanangan gerakan Gastronomi Jawa Barat. 

"Kita ketahui bahwa dunia sedang mengalami situasi ketidakpastian mengenai krisis pangan, energi maupun keuangan," kata Ketua Komite Pemulihan Ekonomi Daerah (KPED) Jabar, Ipong Witono kepada wartawan di Bandung, Sabtu (18/2/2023)

Menurutnya, neraca pangan di Indonesia masih timpang karena sebagian bahan baku masih bergantung pada impor dengan pola konsumsi pangan yang kurang sehat dan kurang setara dalam menegdepankan strategi penggunaan bahan baku lokal. 
Untuk itu, KPED Jabar mencangakan gerakan budaya Gastronomi dengan mengaet Catering Academy menyelenggarakan Mother Chef. 

"Kami apresiasi bahwa gerakan ini bisa digulirkan di akar rumput yang dimotori para ibu-ibu dengan program keterampilan yang mandiri,"ujarnya

Ipong berharap kegiatan ini bisa mendorong sektor mikro dan UMKm di industri rumah tangga berbasis pangan. Selain itu, pihaknya juga mendorong untuk penggunaan berbagai produk lokal dengan resep yang justru diajarkan banyak oleh pendahulu kita. Artinya kita mewariskan juga nilai budaya. 

"Kita dorong sebagai kekuatan daya ungkit pariwisata,"ujarnya 

Diketahui, beberapa negara seperti Vietnam dan Thailand sangat masif mendorong Gastronomi sebagai duta politik dan ekonomi sedangkan Indonesia masih mencari bentuk tersendiri. "Maka, dengan berbagai upaya masyarakat ini akan bisa kita dorong,"imbuhnya 

Dia menyebutkan gerakan ini akan dimulai dari Jawa Barat dan diharapkan bisa diadopsi oleh beberapa provinsi di tanah air. 

"Tadi pihak Bappenas terinspirasi ini untuk membawa gerakan Gastronomi ini di berbagai tempat di Indonesia sebagai kemandirian pangan yang berbasis masyarakat,"ungkapnya

Wakil Ketua Divisi Komunikasi dan Gerakan KPED Jabar, Erick Wiradipoetra mengatakan selama ini berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas kualitas pangan selalu dari sektor hulu. Justru sebenarnya di industri hilirnya yang diminta. 

Misalnya petani menanam singkong sebanyak mungkin tapi tidak ada yang menyerap. Oleh sebab itu, harus diciptakan dulu produsen yang menghasilkan makanan yang bersumber dari pangananan lokal. 

"Jadi varian makanya harus jelas. Kita menciptakan optaker dari masyarakat yang menghasilkan produk,"ujarnya 

Menurutnya, dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 270 juta jiwa tentu membutuhkan varian makanan yang bersumber dari laut dan darat. Sehingga ketika ketika permintaan itu besar maka industri di wilayah hulu permintaannya akan meningkat. 

"Kemudian masyarakat punya kreativitas yang tinggi untuk menciptakan makanan. Bayangkan dari bahan Aci saja bisa menciptakan berbagai varian seperti cimol, cireng dan jajanan pasar lainnya,"ungkapnya 

Erick menyebutkan ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam Gastronomi diantaranya merevitalisasi, mensubtitusi dan memodifikasi makanan. 

Dalam revitalisasi yaitu makanan yang berbasis pada bahan lokal. Misalnya, tempe yang berasal dari bahan baku lokal. Tapi kenapa kedelainya jadi impor. "Artinya harus ada keinginan pemerintah untuk mengambil kebijakan berpihak kepada pangan lokal,"imbuhnya 

Selanjutnya, Gastro sosialism yang lebih kepada identitas. Jadi, makanan itu harus punya identitas bahkan harus memiliki ideologi.

"Selama ini kita tidak punya ideologi tentang makanan. Padahal pangan kita menumbuhkan ideologi,"tegasnya 

Gastronomi meliputi semua aspek. Ia menuturkan, terciptanya makanan karena ada ekosistem. "Tidak mungkin kita memakan Pizza HUT kalau tidak didatangkan dari luar karena makanan asli kita bukan berasal dari terigu,"imbuhnya 

Dia menambahkan bisa dibayangkan 14 milyar bungkus mie instan telah dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. "Kalau dipukul rata dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 270 juta jiwa berarti mereka mengkonsumi mie instan 5 bungkuk per bulan dan itu baru satu brand belum yang lainnya seperti roti dan lainnya. Jadi saya pikir harus dimulai dari kita,"pungkasnya