Golkar Berpeluang Usung Dedi Mulyadi di Pilpres 2029
SMRC memetakan dinamika Pilpres 2029. Nama Dedi Mulyadi mencuat sebagai figur yang berpeluang diusung Golkar di tengah persaingan sejumlah poros politik.
INFOBAIK I JAKARTA – Konstelasi politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai dipetakan sejumlah pengamat dan lembaga survei. Salah satu skenario yang mencuat adalah peluang Partai Golkar mengusung Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebagai calon presiden.
Guru Besar Ilmu Politik UIN Jakarta sekaligus pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Prof. Saiful Mujani, melihat pertarungan menuju 2029 berpotensi berlangsung dengan lebih banyak poros apabila aturan pencalonan presiden mengalami perubahan.
Menurut Saiful, konfigurasi politik tersebut tidak hanya ditentukan oleh kekuatan partai politik, tetapi juga hubungan antarelite dan daya tarik figur yang berpotensi maju sebagai calon presiden.
"Ini yang penting: KDM cenderung menarik dan menyatukan pemilih partai, dan Prabowo cenderung memecah," kata Saiful, Selasa (29/9/2026)
BACA JUGA:Duet Gibran-Dedi Mulyadi Muncul di Depan Jokowi, Politik 2029 Mulai Memanas
Dalam pemetaan tersebut, Golkar disebut memiliki peluang untuk menjadikan Dedi Mulyadi sebagai figur yang diusung pada Pilpres 2029. Sementara Partai Gerindra diperkirakan masih memiliki opsi mendorong Prabowo Subianto.
Adapun PDI Perjuangan disebut memiliki sejumlah pilihan figur, termasuk Ganjar Pranowo dan Pramono Anung. Partai NasDem berpotensi kembali mengusung Anies Baswedan, sedangkan Partai Demokrat memiliki nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Di sisi lain, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam pemetaan tersebut dikaitkan dengan figur Joko Widodo dan Gibran Rakabuming Raka.
Peta tersebut masih berupa proyeksi berdasarkan dinamika politik dan temuan survei, bukan keputusan resmi partai politik. Hingga saat ini, tahapan menuju Pilpres 2029 juga masih panjang sehingga konfigurasi koalisi maupun kandidat masih dapat berubah.
Salah satu dasar pembahasan Saiful adalah survei SMRC yang dilakukan pada 5-19 Juli 2026 terhadap 749 responden. Dalam simulasi semi-terbuka dengan 20 nama, Dedi Mulyadi memperoleh dukungan 35 persen, disusul Prabowo Subianto 14,5 persen, Anies Baswedan 8,2 persen, Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen, AHY 4,9 persen, Ganjar Pranowo 4,2 persen, dan Mahfud MD 4 persen.
Survei tersebut memiliki margin of error sekitar 3,7 persen. Dengan demikian, hasil survei menggambarkan preferensi responden pada saat pengumpulan data dan tidak dapat diperlakukan sebagai prediksi hasil Pilpres 2029.
Saiful juga menilai arah pertarungan Pilpres 2029 akan sangat dipengaruhi kepastian aturan pencalonan, terutama mengenai ambang batas pencalonan presiden. Jika aturan tersebut berubah mengikuti perkembangan putusan Mahkamah Konstitusi, ruang bagi lebih banyak pasangan calon dapat terbuka.
Menurut Saiful, setidaknya ada tiga variabel penting yang akan memengaruhi konfigurasi politik 2029, yakni hubungan antarelite partai, kekuatan elektoral partai, serta kekuatan elektoral figur calon presiden.
Meski nama Dedi Mulyadi semakin sering muncul dalam pembicaraan Pilpres 2029, Gubernur Jawa Barat tersebut sebelumnya menyatakan belum memikirkan kontestasi tersebut dan memilih berfokus menjalankan tugasnya sebagai kepala daerah.
Dengan demikian, pembicaraan mengenai Dedi Mulyadi dan Golkar saat ini lebih tepat dipandang sebagai bagian dari dinamika serta proyeksi politik awal menuju 2029, bukan keputusan pencalonan yang telah ditetapkan secara resmi.
