Kawah Gunung Anak Krakatau Mirip Telur Ceplok

Fenomena "telur ceplok" muncul di kawah Gunung Anak Krakatau.

Sep 21, 2026 20:00 · 15 hari lalu
Kawah Gunung Anak Krakatau Mirip Telur Ceplok
Kawah Gunung Anak Krakatau Mirip Telur Ceplok

INFOBAIK I BANDUNG,– Penampakan kawah Gunung Anak Krakatau (GAK) dari udara menjadi perhatian setelah muncul pola warna yang menyerupai telur ceplok. Fenomena tersebut terlihat setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada awal September 2026.

Video yang memperlihatkan kondisi kawah itu beredar di media sosial melalui akun Instagram @wxchasing. Dari ketinggian, tampak genangan berwarna kuning di bagian tengah yang dikelilingi area berwarna putih sehingga menyerupai kuning dan putih telur.

BACA JUGA: Abu Vulkanik Anak Krakatau Terdeteksi di Jawa Barat, Warga Diimbau Kurangi Aktivitas Luar

Fenomena tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai proses terbentuknya pola warna di kawah gunung api yang berada di perairan Selat Sunda tersebut.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa penampakan seperti telur ceplok merupakan hasil proses geokimia alami di lingkungan kawah vulkanik aktif. Fenomena itu terbentuk dari interaksi antara air yang menggenang, gas vulkanik, serta batuan dan mineral hasil alterasi hidrotermal.

Menurut Daryono, warna kuning pada bagian tengah berkaitan dengan sulfur atau belerang serta material mineral yang terbentuk atau terlarut akibat aktivitas vulkanik.

Sementara bagian putih di sekelilingnya merupakan batuan dan mineral yang mengalami perubahan atau alterasi akibat interaksi dengan fluida dan gas panas.

Genangan air tersebut berada di bagian rendah kawah. Interaksi kimia dan proses pengendapan mineral di sekitarnya kemudian menghasilkan perbedaan warna yang jika dilihat dari udara tampak menyerupai telur ceplok.

Daryono menyebut istilah "telur ceplok" hanya merupakan gambaran visual, bukan istilah resmi dalam ilmu vulkanologi. Kondisi tersebut dapat muncul atau mengalami perubahan setelah episode erupsi ketika sistem hidrotermal dan suplai gas di dalam kawah berubah.

Penjelasan senada disampaikan Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan, Suwarno. Ia mengatakan, pola tersebut merupakan genangan air di kawasan kawah yang terkontaminasi gas belerang.

"Air yang terkontaminasi dengan gas belerang," ujar Suwarno.

Menurut Suwarno, keberadaan belerang merupakan hal yang umum pada gunung api. Namun, pola menyerupai telur ceplok tidak otomatis ditemukan di setiap gunung api karena membutuhkan kondisi berupa genangan air di kawah yang kemudian berinteraksi dengan gas belerang dan material pada dinding kawah.

Di sisi lain, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada dalam pemantauan Badan Geologi. Dalam evaluasi 10-11 September 2026, Badan Geologi mencatat aktivitas vulkanik masih berlangsung dan status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III (Siaga). Masyarakat dan wisatawan dilarang memasuki radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api. 

Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam, mulai 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Badan Geologi menyatakan aktivitas gunung api tersebut masih terus dipantau dan dievaluasi. 

Dengan demikian, kemunculan pola menyerupai telur ceplok di kawah Gunung Anak Krakatau lebih berkaitan dengan proses geokimia akibat interaksi air, gas vulkanik, sulfur, serta material batuan di dalam kawah. 

Fenomena visual tersebut tidak dapat dijadikan indikator tunggal untuk menilai perkembangan aktivitas erupsi, sehingga masyarakat tetap perlu mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi dan PVMBG.