Pertamina dan Pemprov Jabar Bangun Ekosistem Hidrogen Rendah Karbon

Pertamina dan Pemprov Jawa Barat mengembangkan hidrogen rendah karbon dari sampah melalui proyek waste to energy dan PSEL Legok Nangka yang mampu mengolah 2.000 ton sampah per hari menjadi energi bersih.

Aug 1, 2026 18:00 · 2 bulan lalu
Pertamina dan Pemprov Jabar Bangun Ekosistem Hidrogen Rendah Karbon
Pertamina dan Pemprov Jabar Bangun Ekosistem Hidrogen Rendah Karbon

INFOBAIK I KAB BANDUNG,- Jawa Barat mempercepat langkah menuju pusat energi bersih nasional melalui kolaborasi strategis antara PT Pertamina (Persero) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Sinergi tersebut mengintegrasikan pengelolaan sampah menjadi hidrogen rendah karbon, biomethane, dan biofuel sebagai solusi untuk mendukung transisi energi sekaligus mengurangi persoalan sampah di daerah.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Pertamina dan Pemprov Jawa Barat di Bandung. Kerja sama itu mencakup pengembangan energi baru terbarukan, pengelolaan lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari pembangunan ekosistem energi bersih yang berkelanjutan.

Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini, mengatakan proyek ini memanfaatkan gas metana yang dihasilkan dari sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat. Biogas yang dihasilkan akan dimurnikan menjadi biomethane sebelum diproses lebih lanjut menjadi hidrogen rendah karbon.

Menurut Emma, pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi Pertamina membangun rantai nilai energi bersih yang terintegrasi dari hulu hingga hilir melalui konsep waste to energy. Program itu akan dijalankan bersama Subholding Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) dan Subholding Gas yang memiliki peran mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan, pembangunan infrastruktur hingga distribusi dan komersialisasi produk energi.

Pertamina juga menggandeng mitra internasional, termasuk Hyundai dari Korea Selatan, untuk mempercepat penerapan teknologi energi rendah karbon. 

"Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi proyek percontohan pengembangan ekosistem hidrogen di Indonesia yang dapat direplikasi di berbagai daerah apabila implementasinya berjalan sesuai rencana,"ujarnya, Sabtu (1/8/2026)

Emma menegaskan Pertamina berkomitmen menjalankan transformasi bisnis yang sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan. Melalui proyek ini, perusahaan berharap mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam pembangunan berkelanjutan.

Pada saat yang sama, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memulai pembangunan Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka di kawasan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka.

Fasilitas tersebut dirancang mampu mengolah sekitar 2.000 ton sampah setiap hari menjadi energi listrik berkapasitas sekitar 40 megawatt (MW). Selain menghasilkan listrik, proyek tersebut juga akan mendukung produksi hidrogen dan biomethane sehingga memperkuat ekosistem energi bersih di Jawa Barat.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menyatakan pembangunan PSEL Legok Nangka menjadi bagian dari strategi pemerintah mempercepat pemanfaatan energi baru terbarukan sekaligus menyelesaikan persoalan pengelolaan sampah. 

Fasilitas itu ditargetkan mulai beroperasi pada 2029, menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja, serta mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sampah menjadi energi dan bahan bakar terbarukan.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai keberadaan PSEL Legok Nangka akan memperkuat posisi Jawa Barat sebagai salah satu daerah penghasil energi bersih terbesar di Indonesia. 

"Pemprov Jabar juga berencana mengembangkan fasilitas serupa di sejumlah wilayah guna mempercepat penanganan sampah sekaligus meningkatkan pasokan energi bersih,"pungkasnya