PTDI Bangun Sistem Pelatihan Berbasis Kebutuhan Industri

PTDI membangun sistem pelatihan berbasis kebutuhan industri untuk mengatasi kesenjangan skill tenaga kerja dan menyiapkan SDM sesuai standar industri.

Aug 29, 2026 13:50 · 1 bulan lalu
PTDI Bangun Sistem Pelatihan Berbasis Kebutuhan Industri
PTDI Bangun Sistem Pelatihan Berbasis Kebutuhan Industri

INFOBAIK I BANDUNG,- Kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan spesifik mendorong PT Dirgantara Indonesia (PTDI) membangun sistem pelatihan yang disesuaikan langsung dengan kebutuhan industri. 

Langkah ini diarahkan untuk mempersempit kesenjangan kompetensi sekaligus menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang lebih siap menghadapi tuntutan dunia kerja.

Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan mengatakan perusahaan tidak hanya membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar, tetapi juga SDM dengan kompetensi yang sesuai standar industri.

"Kita siapkan SDM-nya," ujar Gita saat peresmian Dirgantara Indonesia Training Center milik PTDI, Sabtu (29/8/2026).

Dirgantara Indonesia Training Center mulai dikembangkan untuk menjawab kebutuhan tersebut. Sejak soft launching pada Januari 2026, fasilitas pelatihan ini telah menyelenggarakan 17 jenis pelatihan dengan total 140 peserta.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 60 orang dikirim ke Korea Selatan untuk bekerja sekaligus memperdalam kompetensi di bidang metalurgi, heat treatment, machining, dan harness.

Pengembangan sistem pelatihan internal juga berkaitan dengan kebutuhan PTDI terhadap tenaga ahli yang memiliki kualifikasi dan sertifikasi tertentu.

Gita mengatakan kebutuhan kualifikasi yang sebelumnya membutuhkan pengeluaran perusahaan mulai dibawa ke dalam sistem pelatihan internal.

"Sekarang kami balik, Pak. Kebutuhan kualifikasi ini kami bawa in-house. Jadi sekarang dari sesuatu yang tadinya kami spending money, Pak, sekarang alhamdulillah, Pak, kita dapat uang," kata Gita.

Menurut dia, pendekatan tersebut membuat pelatihan tidak berhenti pada pemberian materi, tetapi diarahkan untuk menghasilkan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan perusahaan.

PTDI juga menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Nurtanio dalam pengembangan program pelatihan. Kolaborasi dengan perguruan tinggi tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan industri dengan sistem pendidikan dan pengembangan kompetensi.

Langkah PTDI tersebut berlangsung di tengah persoalan ketenagakerjaan nasional. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyebut 63 persen perusahaan mengalami kesulitan mendapatkan tenaga kerja dengan keterampilan yang dibutuhkan.

Menurut Yassierli, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ijazah pendidikan formal saja belum cukup untuk menjawab kebutuhan pasar kerja.

"Ijazah penting, tapi tidak cukup. Makanya ada yang dikenal dengan pendamping ijazahnya apa? Anda sudah bisa apa?" kata Yassierli.

Ia menilai paradigma pasar kerja juga mulai bergeser dari sekadar melihat latar belakang pendidikan menuju kemampuan dan pengalaman praktis.

"Skill, not school. Orang tak lagi peduli Anda itu kuliahnya di mana. Bahkan Anda sampai degree apa. Yang penting Anda bisa apa dan Anda sudah pernah melakukan apa. What is your portfolio?" ujarnya.

Pemerintah sendiri mencoba mempersempit kesenjangan tersebut melalui Program Magang Nasional yang pada 2026 memiliki kuota 150.000 peserta dengan anggaran Rp4,2 triliun.

Selain itu, pemerintah menyiapkan Pelatihan Vokasi Nasional bagi 300.000 orang dengan anggaran Rp1,8 triliun.

Keterlibatan perusahaan dalam membentuk kompetensi tenaga kerja menjadi semakin penting. Industri memiliki pemahaman langsung mengenai keterampilan, teknologi, standar keselamatan, hingga sertifikasi yang dibutuhkan dalam proses produksi.

Model yang dikembangkan PTDI menunjukkan bahwa pusat pelatihan perusahaan dapat berfungsi lebih dari sekadar fasilitas peningkatan kompetensi internal. Jika dikembangkan secara luas, pola serupa berpotensi menjadi penghubung antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan kebutuhan industri.

Bagi Indonesia, tantangan berikutnya bukan hanya meningkatkan jumlah lulusan atau peserta pelatihan. Yang lebih penting adalah memastikan kompetensi yang diperoleh benar-benar relevan dengan kebutuhan industri sehingga tenaga kerja dapat langsung berkontribusi ketika memasuki dunia kerja.