Transformasi TLKM 30 Jadi Penentu Masa Depan Telkom
Laba bersih Telkom (TLKM) turun 20,4% sepanjang 2025 menjadi Rp17,81 triliun. Meski pendapatan dan laba usaha tertekan, arus kas dan kas perseroan tetap kuat di tengah strategi transformasi digital TLKM 30.
INFOBAIK I JAKARTA — PT Telekomunikasi Indonesia Tbk atau Telkom harus menghadapi tekanan bisnis sepanjang tahun 2025. Emiten telekomunikasi pelat merah berkode saham TLKM itu mencatat laba bersih sebesar Rp17,81 triliun, turun 20,4% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp22,40 triliun.
Penurunan laba tersebut menjadi sorotan pasar karena terjadi di tengah agresivitas transformasi perusahaan digital melalui strategi “TLKM 30” yang digadang-gadang menjadi landasan pertumbuhan baru bisnis Telkom di era digital.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan Telkom juga mengalami penurunan menjadi Rp146,74 triliun pada tahun 2025, dari Rp149,96 triliun pada tahun sebelumnya.
Tak hanya pendapatan, laba usaha korporasi ikut tergerus cukup dalam.
Telkom membukukan laba usaha sebesar Rp34,64 triliun, turun dari Rp41,45 triliun pada tahun 2024. Sementara laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar Rp31,10 triliun, lebih rendah dibandingkan Rp37,61 triliun pada periode sebelumnya.
Tekanan kinerja Telkom terlihat dari meningkatnya sejumlah pos beban. Beban operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi mencapai Rp41,23 triliun. Pada saat yang sama, beban penyusutan dan amortisasi naik menjadi Rp37,64 triliun dari sebelumnya Rp34,18 triliun.
Selain itu, Telkom juga menanggung beban karyawan sebesar Rp16,36 triliun, beban interkoneksi Rp7,01 triliun, beban umum dan administrasi Rp6,60 triliun, serta beban pemasaran Rp3,28 triliun.
Meski laba ditekan, Telkom tetap menunjukkan kekuatan dari likuiditas. Arus kas bersih dari aktivitas operasi meningkat menjadi Rp63,84 triliun sepanjang tahun 2025, naik dibandingkan Rp61,60 triliun pada tahun sebelumnya.
Kas dan setara kas perseroan pun naik menjadi Rp34,22 triliun pada akhir 2025. Angka tersebut menunjukkan Telkom masih memiliki bantalan keuangan yang kuat untuk menopang transformasi bisnis dan ekspansi digital ke depan.
Namun dari sisi neraca, total aset Telkom turun menjadi Rp287,75 triliun dari sebelumnya Rp291,38 triliun. Penurunan terutama terjadi pada aset tetap yang menyusut menjadi Rp165,45 triliun.
Sementara itu, total ekuitas perusahaan ikut turun menjadi Rp150,53 triliun dibandingkan Rp154,20 triliun pada akhir 2024.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengatakan bahwa tahun 2025 menjadi periode penting dalam proses transformasi perusahaan melalui strategi TLKM 30.
Menurutnya, transformasi tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi Telkom sebagai penggerak ekosistem digital nasional sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan global.
“Sepanjang tahun 2025 Telkom telah berhasil menjaga kinerja yang stabil berkat strategi transformasi TLKM 30,” ujar Dian dalam keterangan resmi, Rabu (13/5/2026).
Ia menambahkan bahwa tahun 2026 akan menjadi fase penting bagi Telkom untuk mempercepat implementasi transformasi bisnis secara lebih terstruktur dan disiplin.
Di tengah tekanan laba dan persaingan industri telekomunikasi yang semakin ketat, investor kini menanti apakah strategi transformasi Telkom mampu mengembalikan pertumbuhan perusahaan dan menjaga profitabilitas dalam jangka panjang.
