Bio Farma Jajaki Pasar Terapi Sel Punca, Bidik Penguatan Industri Bioteknologi Nasional

Bio Farma dan 23 Century Medical Group menjajaki kerja sama produk berbasis sel punca dan sekretom untuk memperluas kapabilitas bioteknologi di Indonesia.

Oct 9, 2026 20:00 · 5 hari lalu
Bio Farma Jajaki Pasar Terapi Sel Punca, Bidik Penguatan Industri Bioteknologi Nasional
Bio Farma Jajaki Pasar Terapi Sel Punca, Bidik Penguatan Industri Bioteknologi Nasional

INFOBAIK I BANDUNG,- Pengembangan industri bioteknologi membuka peluang baru bagi perusahaan farmasi nasional untuk memperluas portofolio bisnis sekaligus meningkatkan kemampuan teknologi kesehatan dalam negeri. 

PT Bio Farma (Persero) mulai menjajaki peluang tersebut melalui kerja sama dengan perusahaan Malaysia, 23 Century Medical Group Sdn Bhd, untuk mengeksplorasi pengembangan produk berbasis sel punca (stem cell) dan sekretom (secretome) di Indonesia.

Penjajakan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua perusahaan di Jakarta, Jumat (9/10/2026). 

BACA JUGA:Bio Farma, 23 Century Medical Group, sel punca, stem cell, sekretom, secretome, terapi seluler,

Kesepakatan ini mencakup penjajakan kerja sama dalam aspek registrasi, komersialisasi, dan distribusi produk berbasis sel punca dan/atau sekretom di Indonesia.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya Bio Farma memperluas kapabilitas di sektor life science, di tengah perkembangan teknologi medis yang semakin mengandalkan inovasi biologi dan terapi regeneratif.

Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, mengatakan penjajakan kerja sama tersebut sejalan dengan transformasi perusahaan untuk memperkuat kompetensi di bidang terapi seluler dan pengobatan regeneratif.

Menurutnya, pengalaman Bio Farma dalam pengembangan vaksin dan produk farmasi konvensional dapat menjadi fondasi untuk memperluas pengetahuan serta membangun kapabilitas baru di bidang bioteknologi.

“Bagi Bio Farma, pengembangan bidang ini merupakan langkah strategis yang sejalan dengan pengalaman panjang kami dalam pengembangan vaksin dan produk farmasi konvensional. Dari perspektif riset dan pengembangan, kami memandang kemitraan ini sebagai peluang untuk meningkatkan pengetahuan, serta membangun kapabilitas yang akan memperkuat ekosistem bioteknologi Indonesia,” kata Shadiq.

Selain memperluas kompetensi perusahaan, penjajakan ini membuka peluang untuk mempelajari kesiapan pasar dan industri dalam negeri dalam mengadopsi teknologi terapi seluler. 

Aspek tersebut mencakup persyaratan regulasi, standar mutu, model bisnis, hingga mekanisme distribusi produk.

Meski demikian, penandatanganan MoU tersebut masih merupakan tahap awal penjajakan. Realisasi komersialisasi produk akan bergantung pada hasil pembahasan lebih lanjut, kesiapan industri, serta pemenuhan ketentuan regulasi yang berlaku di Indonesia.

Perkuat Kapabilitas Industri Kesehatan

Direktur Riset dan Pengembangan Bio Farma, Dicky Mahardhika Taryono, mengatakan pengembangan teknologi kesehatan tingkat lanjut membutuhkan kesiapan ekosistem yang mencakup riset, tenaga ahli, sistem mutu, industri, dan layanan kesehatan.

Karena itu, penjajakan dengan 23 Century Medical Group tidak hanya diarahkan untuk memahami peluang pengembangan produk, tetapi juga memperdalam pengetahuan mengenai teknologi dan persyaratan yang dibutuhkan untuk membangun kapabilitas nasional.

“Bagi Bio Farma, penjajakan ini merupakan bagian dari upaya membangun kapabilitas nasional di bidang teknologi kesehatan yang lebih maju. Kami ingin memperkuat pemahaman mengenai ilmu pengetahuan, persyaratan regulasi, sistem mutu, dan kesiapan industri secara bertahap,” ujar Dicky.

Ia menambahkan, pengembangan tersebut diharapkan dapat mendukung akses masyarakat terhadap inovasi kesehatan yang terbukti aman dan bermanfaat.

Dari sisi industri, penguatan kapabilitas bioteknologi berpotensi membuka ruang pengembangan kompetensi baru, mulai dari riset dan pengembangan hingga teknologi produksi dan pengawasan mutu. 

Namun, manfaat ekonomi jangka panjangnya akan bergantung pada kemampuan industri dalam membangun kapasitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan standar yang berlaku.

Bio Farma juga menyampaikan apresiasi terhadap dukungan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dalam mendorong investasi di sektor bioteknologi dan kesehatan, terutama untuk memperkuat kapabilitas manufaktur dalam negeri melalui kolaborasi dengan mitra internasional.

Penandatanganan MoU tersebut dilakukan oleh Dicky Mahardhika Taryono dan Managing Director 23 Century Medical Group, Datok Seri Dr. David Mah. Acara itu turut disaksikan Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya, CEO 23 Century Medical Group Dr. Angelina Tiah Shy Yng, serta Staf Khusus Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Didi Apriadi.

Bidik Pengembangan Terapi Regeneratif

CEO 23 Century Medical Group, Dr. Angelina Tiah Shy Yng, mengatakan perkembangan dunia medis semakin mengarah pada pendekatan terapi yang tidak hanya berfokus pada pengelolaan gejala, tetapi juga pada upaya memperbaiki dan memulihkan fungsi biologis tubuh.

Ia menilai penjajakan dengan Bio Farma dapat menjadi langkah awal untuk memahami kebutuhan pasar Indonesia sekaligus mempelajari peluang pengembangan kapabilitas lokal di bidang terapi seluler dan pengobatan regeneratif.

Menurut Angelina, pembahasan kerja sama juga mencakup peluang terkait produk berbasis sel punca dan sekretom, serta memory-like natural killer cells, dengan tetap mengutamakan bukti ilmiah, mutu, keselamatan pasien, dan kepatuhan terhadap regulasi.

Terapi seluler dan pengobatan regeneratif merupakan bidang kedokteran yang memanfaatkan sel atau produk biologis turunannya untuk mendukung upaya perbaikan maupun pemulihan fungsi biologis. Pengembangan produk dalam bidang ini memerlukan kajian ilmiah, pengujian, serta pemenuhan persyaratan mutu dan keselamatan sesuai karakteristik masing-masing produk.

23 Century Medical Group merupakan perusahaan yang berbasis di Malaysia dan berfokus pada pengembangan, manufaktur, serta penerapan klinis terapi seluler tingkat lanjut. Portofolio platform perusahaan tersebut mencakup WJ-MSC, WJ-MSC Secretome, dan terapi seluler ML-NK.

Perusahaan itu juga menyatakan memiliki fasilitas manufaktur sel berstandar cGMP/CGTP dan mengembangkan kolaborasi internasional di sejumlah wilayah Asia.

Bagi Bio Farma, penjajakan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperluas kompetensi di sektor life science tanpa meninggalkan bisnis inti vaksin dan produk biologis. Sebagai perusahaan BUMN yang berkantor pusat di Bandung, Bio Farma selama ini berperan dalam produksi dan distribusi vaksin serta pengembangan bioteknologi.

Ke depan, peluang pengembangan industri terapi seluler di Indonesia akan ditentukan oleh kesiapan riset, sumber daya manusia, infrastruktur produksi, sistem pengawasan mutu, serta kepastian pemenuhan regulasi.

Dengan demikian, penjajakan kerja sama antara Bio Farma dan 23 Century Medical Group menjadi langkah awal untuk mengeksplorasi peluang pengembangan teknologi kesehatan tingkat lanjut sekaligus memperkuat kapasitas industri bioteknologi nasional.