Bukan Sekadar Ibadah, Tarawih di Sumenep Berubah Jadi Ritual Sosial yang Diserbu Ribuan Warga

Feb 21, 2026 14:00 · 7 bulan lalu
Bukan Sekadar Ibadah, Tarawih di Sumenep Berubah Jadi Ritual Sosial yang Diserbu Ribuan Warga
Bukan Sekadar Ibadah, Tarawih di Sumenep Berubah Jadi Ritual Sosial yang Diserbu Ribuan Warga

INFOBAIK I SUMENEP – Fenomena salat tarawih perdana di bulan Ramadan di Kabupaten Sumenep tahun ini tak lagi sekadar soal ibadah malam. Sejak sore hari, ribuan warga tampak “mengamankan posisi” di masjid dan musala, seolah mengikuti sebuah ritual sosial tahunan yang sudah dinanti sejak lama.

Pemandangan antrean jemaah yang memadati rumah ibadah bahkan sebelum azan Magrib berkumandang viral di media sosial. Bukan karena perebutan saf terdepan atau imam terkenal, melainkan karena satu hal yang sudah menjadi tradisi tak tertulis: penyaluran zakat mal usai tarawih.

Tarawih, Zakat, dan Antrean Panjang

Di sejumlah titik, salah satunya Mushala Wakaf Abdullah, Kelurahan Kepanjin, warga mengaku datang lebih awal demi memastikan mendapat tempat. Tarawih di lokasi ini dikenal bukan hanya khidmat, tetapi juga membawa harapan ekonomi bagi sebagian masyarakat.

“Kalau datang malam biasanya sudah penuh. Sejak dulu memang begini kalau Ramadan,” ujar Syifa, salah seorang jemaah dikutip iNews

Antusiasme tersebut dipicu oleh tradisi pembagian zakat mal pribadi dari MH Said Abdullah, tokoh nasional asal Madura yang dikenal rutin berbagi setiap Ramadan. Nominal zakat yang diterima jemaah disebut bisa mencapai ratusan ribu rupiah per orang—angka yang cukup berarti di tengah meningkatnya kebutuhan pokok menjelang puasa.

Antara Spirit Ramadan dan Realitas Ekonomi

Fenomena ini memperlihatkan wajah Ramadan yang unik di Madura: perpaduan spiritualitas dan realitas sosial. Di satu sisi, masyarakat menjalankan ibadah sunnah dengan penuh semangat. Di sisi lain, zakat mal menjadi penopang ekonomi sekaligus simbol solidaritas sosial yang nyata.

Tak heran jika banyak warganet menyebut tarawih di Sumenep sebagai “paket lengkap”: ibadah, silaturahmi, dan bantuan ekonomi dalam satu malam.

Viral, Tapi Sarat Makna

Meski sempat menuai beragam komentar di media sosial, warga setempat menilai tradisi ini justru memperkuat nilai kebersamaan. Zakat tak hanya dilihat sebagai bantuan materi, melainkan juga bentuk kehadiran tokoh masyarakat di tengah warganya.

Hingga malam pertama Ramadan berakhir, pelaksanaan salat tarawih di berbagai penjuru Sumenep dilaporkan berjalan aman, tertib, dan khidmat—meski dengan lautan jemaah yang membludak.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di balik viralnya sebuah peristiwa, tersimpan kisah tentang tradisi, empati, dan cara masyarakat menyambut Ramadan dengan caranya sendiri.