Dari Abdi hingga Man Jadda Wajada, Jejak Sunyi Bahasa Arab dalam Bahasa Sehari-hari Nusantara

Tanpa kita sadari, bahasa Arab telah lama menjadi bagian dari percakapan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Dec 18, 2025 18:00 · 10 bulan lalu
Dari Abdi hingga Man Jadda Wajada, Jejak Sunyi Bahasa Arab dalam Bahasa Sehari-hari Nusantara
Dari Abdi hingga Man Jadda Wajada, Jejak Sunyi Bahasa Arab dalam Bahasa Sehari-hari Nusantara

INFOBAIK I BANDUNG,- Tanpa kita sadari, bahasa Arab telah lama menjadi bagian dari percakapan sehari-hari masyarakat Indonesia. Ia hadir bukan hanya di ruang ibadah atau kitab-kitab keagamaan, tetapi juga dalam kata-kata sederhana yang kerap kita ucapkan: kitab, jilid, abi, ummi, hingga ungkapan motivatif seperti man jadda wajada. Kata-kata itu mengalir begitu alami, seolah lahir dari rahim bahasa Indonesia sendiri.

Mengutip detikjabar, Jejak tersebut bahkan terasa lebih dekat dalam bahasa daerah. Dalam bahasa Sunda, misalnya, kata abdi yang berarti “saya” berasal dari bahasa Arab yang bermakna “hamba”. Kata hajat yang sering digunakan untuk menyebut keperluan atau maksud tertentu pun memiliki akar yang sama. Dahulu, masyarakat Sunda juga akrab dengan istilah Walilat untuk menyebut Idulfitri dan Iduladha—sebuah adaptasi lokal dari lafaz Walillah yang muncul dalam rangkaian takbir.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa Arab tidak datang sebagai tamu yang asing, melainkan berasimilasi, beradaptasi, dan hidup bersama budaya Nusantara. Ia membentuk lapisan makna, memperkaya kosakata, sekaligus menjadi jembatan antara tradisi lokal dan peradaban global.

Setiap 18 Desember, dunia memperingati Hari Bahasa Arab Sedunia. Peringatan ini bukan sekadar penanda linguistik, melainkan pengakuan internasional atas peran besar bahasa Arab dalam sejarah manusia. Bahasa ini dituturkan oleh lebih dari 400 juta orang, menjadi bahasa resmi di lebih dari 20 negara, serta termasuk enam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

UNESCO menetapkan Hari Bahasa Arab Sedunia pada 18 Desember 2012, merujuk pada keputusan Majelis Umum PBB tanggal 18 Desember 1973 yang mengesahkan bahasa Arab sebagai bahasa resmi dan bahasa kerja PBB. Keputusan tersebut menegaskan posisi strategis bahasa Arab dalam diplomasi, komunikasi internasional, dan pertukaran budaya lintas bangsa.

Namun, kekuatan bahasa Arab tidak hanya terletak pada jangkauan geopolitiknya. Bahasa ini dikenal unik, puitis, dan memiliki struktur yang khas. Minimnya serapan dari bahasa lain menjadikannya diyakini tetap murni, sebuah alasan teologis mengapa bahasa Arab dipilih sebagai bahasa Al-Qur’an.

Sejarah sastra Arab mencatat bagaimana bahasa ini mampu membangun keindahan melalui rima dan irama. Dalam kisah pra-Islam yang dikutip dari Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Syiq—seorang peramal legendaris—menjawab tafsir mimpi Raja Rabiah dengan syair yang berima, penuh imaji, dan menggugah:

Raayta humamah

kharajat min dzulmah

fa waqa’at baina raudlah wa akmah

akalat minha kulla dzati nasmah

(Engkau bermimpi api

yang muncul dari kegelapan

lalu jatuh di antara Raudlah dan Akmah

lalu memakan semua yang punya nafas)

Kisah ini menjadi penanda bahwa bahasa Arab bukan sekadar alat komunikasi, melainkan medium peradaban—menyimpan estetika, makna, dan kekuatan narasi.

Di Indonesia, peringatan Hari Bahasa Arab Sedunia dapat menjadi momentum refleksi: bahwa bahasa ini telah lama hadir, membaur, dan membentuk cara kita berpikir serta bertutur. Dari kata abdi di tanah Sunda hingga ungkapan bijak yang memotivasi generasi muda, bahasa Arab terus hidup—sunyi, namun berpengaruh—dalam denyut bahasa dan budaya Nusantara.