FDC Dental Clinic Bidik 100 Cabang, Perkuat Ekspansi dengan Teknologi AI

FDC Dental Clinic menargetkan 100 cabang di Indonesia dengan memperkuat teknologi digital dan AI untuk mendukung ekspansi bisnis serta meningkatkan layanan pasien.

Oct 7, 2026 10:00 · 8 hari lalu
FDC Dental Clinic Bidik 100 Cabang, Perkuat Ekspansi dengan Teknologi AI
FDC Dental Clinic Bidik 100 Cabang, Perkuat Ekspansi dengan Teknologi AI

INFOBAIK I JAKARTA, - FDC Dental Clinic memperkuat ekspansi bisnis layanan kesehatan gigi di Indonesia dengan mengandalkan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI). 

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas jaringan layanan sekaligus meningkatkan pengalaman pasien di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan gigi.

FDC Dental Clinic saat ini tengah mengembangkan jaringan menuju target 100 cabang di Indonesia. Ekspansi tersebut dibarengi dengan penguatan infrastruktur teknologi untuk mengintegrasikan proses bisnis, layanan internal, hingga interaksi dengan pasien.

CEO dan Founder FDC Dental Clinic, drg. Ita Lestari, MARS mengatakan pengembangan teknologi menjadi salah satu fondasi perusahaan dalam memperluas jaringan. FDC mengembangkan sistem perangkat lunak internal bernama FAST yang berfungsi sebagai enterprise resource planning (ERP) untuk menghubungkan berbagai proses bisnis secara end-to-end.

“FAST itu sistem software yang kami kembangkan sendiri, ERP yang kami develop sendiri untuk mengombinasikan seluruh sistem yang mengoneksikan antara sistem internal sampai ke patient end-to-end business process,” ujar Ita, Rabu (7/10/2026).

BACA JUGA:81 Tahun Merdeka, Fasilitas Kesehatan Gigi di Pelosok Masih Terbatas

Menurutnya, digitalisasi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional perusahaan, tetapi juga memberikan kemudahan bagi pasien. 

Salah satu teknologi yang tengah diimplementasikan memungkinkan masyarakat melakukan pemindaian atau pemotretan kondisi gigi menggunakan kamera untuk memperoleh gambaran awal mengenai kondisi gigi dan kebutuhan perawatan.

Hasil analisis berbasis AI tersebut kemudian menjadi informasi awal yang dapat dikonsultasikan kembali dengan dokter gigi. FDC menyebut tingkat akurasi teknologi tersebut sejauh ini berada pada kisaran 90–95 persen, namun hasil AI tetap diposisikan sebagai diagnosis awal dan bukan pengganti pemeriksaan dokter.

“AI ini bisa mempercepat layanan dan memberikan kemudahan kepada masyarakat. Untuk diagnosis, itu merupakan diagnosis pertama untuk kemudian dikonsultasikan kepada dokter gigi,” katanya.

Penggunaan teknologi tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi FDC untuk meningkatkan produktivitas layanan ketika perusahaan memperluas jaringan.

Integrasi sistem secara digital dinilai penting agar standar pelayanan dapat tetap diterapkan di berbagai cabang yang dikembangkan.

Selain teknologi, FDC juga menjadikan pengalaman pasien sebagai bagian dari strategi bisnis. Perusahaan menerapkan konsep pelayanan yang memberikan pendampingan sejak pasien memasuki klinik hingga bertemu dengan dokter.

Strategi tersebut diarahkan untuk menciptakan pengalaman layanan yang berbeda sekaligus meningkatkan kenyamanan pasien. Dengan demikian, nilai layanan yang ditawarkan tidak hanya bertumpu pada tindakan medis, tetapi juga keseluruhan pengalaman pelanggan.

FDC menilai salah satu tantangan industri kesehatan gigi di Indonesia adalah rendahnya kebiasaan masyarakat melakukan pemeriksaan secara berkala. Banyak pasien baru datang ketika sudah mengalami sakit gigi.

Kondisi itu mendorong FDC mengembangkan pendekatan preventif dengan mengedukasi masyarakat agar melakukan pemeriksaan gigi secara rutin, termasuk pemeriksaan setiap enam bulan.

Sementara itu, layanan yang banyak dibutuhkan masyarakat antara lain penanganan gigi berlubang atau karies dan pembersihan karang gigi melalui scaling. Keluhan sakit gigi juga masih menjadi salah satu alasan masyarakat mendatangi klinik.

Di sisi lain, pengembangan teknologi dan jaringan layanan membuat FDC mulai mendapatkan eksposur di tingkat regional. "Kita telah mendapatkan undangan dari Google Singapura untuk mengikuti agenda di kawasan Asia Pasifik dan mewakili sektor klinik,"imbuhnya

Sementara itu, FDC Dental Clinic dan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas YARSI memperkuat kolaborasi antara industri layanan kesehatan dan perguruan tinggi melalui penandatanganan nota kesepahaman dalam rangkaian FDC Media Gathering 2026. 

Dalam kegiatan tersebut, FDC juga menandatangani nota kesepahaman dengan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas YARSI. Mou ditandatangani oleh oleh Dekan FKG, Dr. drg. R. M. Sri Hananto Seno, Sp.BM(K), MM. 

Ruang lingkup Kerjasama berfokus pada pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, mencakup pendidikan dan pengembangan kompetensi, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Ruang kolaborasi juga dapat dikembangkan melalui knowledge sharing, pembelajaran praktis, pengembangan talenta kesehatan gigi, serta penguatan kesiapan mahasiswa memasuki dunia profesional. Founder & 

CEO FDC Dental Clinic, drg. Ita Lestari, MARS, mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku industri menjadi semakin penting karena perkembangan layanan kesehatan gigi tidak hanya membutuhkan kompetensi klinis  

"juga pemahaman terhadap teknologi, pengalaman pasien, dan perubahan kebutuhan masyarakat,"ujarnya

Adapun, Dekan FKG Universitas YARSI, Dr. drg. R. M. Sri Hananto Seno, Sp.BM(K), MM. menambahkan kerja sama tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa dan lulusan untuk menghubungkan pendidikan akademik dengan kebutuhan dunia kerja.

Menurutnya, mahasiswa kedokteran gigi kerap menghadapi tantangan setelah lulus, terutama terkait kebutuhan fasilitas, peralatan praktik, dan pilihan tempat bekerja. Melalui kerja sama dengan FDC, lulusan memiliki alternatif untuk melanjutkan karier tanpa harus langsung membangun klinik sendiri yang membutuhkan investasi besar.

"Pada saat kita kerja sama ini mereka tidak akan bingung mencari pekerjaan. Artinya lowongan kerja sudah ditampung,"pungkasnya