IPO Jadi Katalisator Pertumbuhan dan Keberlanjutan Bisnis Keluarga di Indonesia

Hanya sekitar 30% bisnis keluarga yang berhasil bertahan hingga generasi kedua, dan kurang dari 4% yang mampu melanjutkan ke generasi keempat, menurut studi yang dilakukan oleh EY dan Kennesaw State University pada tahun 2015.

Dec 9, 2024 13:32 · 2 tahun lalu
IPO Jadi Katalisator Pertumbuhan dan Keberlanjutan Bisnis Keluarga di Indonesia
IPO Jadi Katalisator Pertumbuhan dan Keberlanjutan Bisnis Keluarga di Indonesia / FIMA

INFOBAIK I BANDUNG – Hanya sekitar 30% bisnis keluarga yang berhasil bertahan hingga generasi kedua, dan kurang dari 4% yang mampu melanjutkan ke generasi keempat, menurut studi yang dilakukan oleh EY dan Kennesaw State University pada tahun 2015. 

Namun, dua perusahaan keluarga di Indonesia, Cimory dan Cleo, membuktikan bahwa keberlanjutan bisnis keluarga dapat dicapai dengan strategi yang tepat, salah satunya melalui Initial Public Offering (IPO).

Cimory: Dari Bisnis Keluarga ke Perusahaan Terbuka

Cimory, atau PT Cisarua Mountain Dairy Tbk, didirikan pada tahun 2004 oleh Bambang Sutantio dengan tujuan mendukung peternak sapi perah lokal di Cisarua, Bogor, serta menyediakan produk nutrisi berkualitas untuk masyarakat. Seiring waktu, bisnis ini berkembang menjadi produsen makanan dan minuman protein terkemuka di Indonesia. Pada tahun 2021, Cimory melakukan IPO untuk memperkokoh pondasi perusahaan dan mempersiapkan alih generasi kepada Farell Sutantio, putra pertama Bambang Sutantio.

Keberhasilan IPO Cimory pada tahun 2021 yang menghasilkan dana sekitar Rp3,66 triliun, membawa dampak signifikan pada pertumbuhan perusahaan. Pada tahun 2023, laba bersih Cimory melonjak 602% dari Rp177 miliar (sebelum IPO) menjadi Rp1,24 triliun. Selain itu, IPO ini memungkinkan Cimory untuk memperluas kapasitas produksi, jaringan distribusi, serta program pemberdayaan sosial dan kelestarian lingkungan.

Cleo: Transformasi Strategis Menuju Profesionalisme

Sama seperti Cimory, Cleo (PT Sariguna Primatirta Tbk) yang didirikan oleh Hermanto Tanoko pada tahun 2004 juga mengambil langkah serupa dengan melakukan IPO pada tahun 2017. Belinda Natalia Tanoko, putri pertama Hermanto, dipercaya untuk memimpin perusahaan setelah IPO. Melalui transformasi ini, Cleo mampu memperluas pabrik menjadi 32 dan membuka 360 cabang distribusi di seluruh Indonesia.

Setelah menjadi perusahaan tercatat, Cleo berhasil meningkatkan kapitalisasi pasar lebih dari 1.600% dari Rp871 miliar pada tahun 2017 menjadi Rp15,5 triliun pada tahun 2024. IPO juga memperkuat tata kelola perusahaan dengan fokus pada keberlanjutan, termasuk pengalihan penggunaan energi dari batu bara ke listrik pada proses produksi.

Melalui IPO, baik Cimory maupun Cleo berhasil melakukan alih generasi dengan sukses, memperluas akses pendanaan, serta meningkatkan kredibilitas perusahaan. IPO juga memberikan dampak positif dalam meningkatkan tata kelola perusahaan dan membuka peluang kerjasama yang lebih luas. Dengan transparansi dan akuntabilitas yang diwajibkan oleh status perusahaan terbuka, kedua perusahaan ini telah menunjukkan bahwa IPO bukan hanya soal mencari pendanaan, tetapi juga langkah strategis menuju pertumbuhan yang berkelanjutan.

Keberhasilan IPO Cimory dan Cleo menggarisbawahi pentingnya memiliki visi yang jelas dan komitmen terhadap profesionalisme untuk menjamin masa depan bisnis keluarga yang lebih kokoh, berkelanjutan, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi pemegang saham serta masyarakat.