Karya Anak Bangsa Mendunia, Kreatifafa Wakili Indonesia di Pasar Hak Cipta Global Istanbul

Kementerian Ekonomi Kreatif mengapresiasi Kreatifafa yang terpilih sebagai peserta Istanbul Publishing Fellowship Program 2026. Kesempatan strategis ini membuka pasar hak cipta global bagi buku pop-up anak Indonesia sekaligus memperluas jejaring penerbit internasional.

Feb 13, 2026 09:00 · 8 bulan lalu
Karya Anak Bangsa Mendunia, Kreatifafa Wakili Indonesia di Pasar Hak Cipta Global Istanbul
Karya Anak Bangsa Mendunia, Kreatifafa Wakili Indonesia di Pasar Hak Cipta Global Istanbul

INFOBAIK I JAKARTA,- Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) mengapresiasi keberhasilan penerbit dan studio kreatif Kreatifafa yang resmi terpilih sebagai peserta Istanbul Publishing Fellowship Program 2026. Prestasi Kreatifafa ini merupakan peluang strategis untuk memasarkan hak cipta (_right selling_) buku-buku pop-up Kreatifafa sekaligus membangun jaringan dengan penerbit maupun distributor internasional

“Keterlibatan Kreatifafa menunjukkan bahwa karya anak Indonesia bisa dibawa ke panggung dunia. Kementerian Ekraf berkomitmen memperkuat dukungan seperti apa Kreatifafa hadir tak sebatas untuk pasar lokal, melainkan juga tembus ke internasional dengan gabungan konten edukatif dan pendekatan visual dalam bentuk _pop-up book_ yang sungguh menarik,” ungkap Wamen Ekraf Irene Umar, Jumat (13/2/2026)

Program Istanbul Publishing Fellowship yang diadakan 10-12 Februari di Istanbul, Turki merupakan forum bergengsi global yang mempertemukan para pemimpin, inovator, dan kreator dari berbagai negara untuk membangun kolaborasi lintas budaya serta masa depan pendidikan lintas generasi. Kementerian Ekraf meyakini keikutsertaan delegasi Indonesia ke Turki bisa ikut mempelajari teknologi dan tren baru subsektor penerbitan secara global.

Ajang Istanbul Publishing Fellowship 2026 menjadi pasar hak cipta (_copyright market_) acara yang diselenggarakan oleh Turkish Press and Publishers Copyright & Licensing Society (TBYM) dengan dukungan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Turki. Kementerian Ekraf menilai program ini mampu mempertemukan kolaborasi penerbit global untuk perkenalan potensi industri kreatif, khususnya subsektor penerbitan Tanah Air.

Tahun lalu tepatnya bulan Juni, Wamen Ekraf Irene meresmikan kantor baru perusahaan pengungkapan yang fokus pada produksi buku anak bertema edukasi dan keislamaan seperti Kreatifafa di Sleman, Yogyakarta. Sejumlah hak cipta judul buku dari Kreatifafa pun sudah dibeli dari negara Arab Saudi dan Jerman. Berarti, buku-buku anak terbitan Kreatifafa yang tersedia dalam bahasa Indonesia dan Inggris mampu menjawab kebutuhan literasi anak secara global.

Sementara itu, CEO Kreatifafa Fatchul Hidayah Clairine Yuzlar menekankan bahwa misi besar Kreatifafa dibawa pada forum ini untuk membuka peluang kerja sama global bidang literasi dan pendidikan anak dari buku pop-up anak yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga sarat nilai kreativitas yang menjual.

“Ini adalah kesempatan luar biasa untuk bertemu dengan banyak tokoh dari berbagai negara sekaligus berbagi cerita tentang Indonesia. Istanbul Fellowship menjadi langkah strategi untuk membuktikan bahwa karya anak bangsa memiliki standar kualitas yang setara, bahkan mampu bersaing di pasar global,” ucap Fatchul Hidayah.

Indonesia bukan lagi sebagai konsumen konten tunggal, namun memegang peran sebagai produsen buku-buku berkualitas yang layak dikonsumsi dunia. Partisipasi ini diharapkan tidak mampu memicu semangat industri terbitan Indonesia yang memiliki daya tawar terhadap pasar internasional.