Mahasiswa Tuntut Uang Kuliah Dikembalikan Usai Dosen Ketahuan Gunakan ChatGPT di Perkuliahan

Penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan seperti ChatGPT semakin meluas, termasuk di dunia pendidikan tinggi. Namun, tak selamanya teknologi ini membawa dampak positif.

Jul 17, 2025 10:00 · 1 tahun lalu
Mahasiswa Tuntut Uang Kuliah Dikembalikan Usai Dosen Ketahuan Gunakan ChatGPT di Perkuliahan
Mahasiswa Tuntut Uang Kuliah Dikembalikan Usai Dosen Ketahuan Gunakan ChatGPT di Perkuliahan

INFOBAIK I BANDUNG,- Penggunaan AI di Dunia Pendidikan Tuai Kontroversi, Mahasiswa Tuntut Uang Kuliah Dikembalikan

Penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan seperti ChatGPT semakin meluas, termasuk di dunia pendidikan tinggi. Namun, tak selamanya teknologi ini membawa dampak positif. Kasus terbaru di Amerika Serikat menunjukkan bagaimana penggunaan AI oleh pengajar bisa menimbulkan polemik serius.

Seorang dosen di Universitas Northeastern dilaporkan menggunakan ChatGPT dalam materi perkuliahannya. Temuan ini diungkap oleh Ella Stapleton, salah satu mahasiswi di jurusan bisnis, yang kemudian menuntut agar uang kuliahnya dikembalikan.

Ella mengaku menemukan adanya prompt ChatGPT dalam catatan tugas yang diberikan sang dosen. Salah satu prompt berbunyi: “Perluas seluruh area. Berikan penjelasan lebih rinci dan spesifik.” Selain itu, ia juga mendapati hasil teks AI yang penuh dengan gambar terdistorsi, kesalahan ejaan, dan perintah-perintah teknis lainnya yang seharusnya tidak muncul dalam materi akademis resmi.

Menurut laporan The New York Times dan Newsweek, Stapleton secara resmi mengajukan keluhan kepada pihak kampus. Ia menilai tindakan sang dosen bertentangan dengan kebijakan universitas yang melarang penggunaan AI secara tidak sah dalam aktivitas akademik, termasuk di jurusan bisnis tempat ia belajar.

Fakta ini menunjukkan ironi di tengah gencarnya pelarangan penggunaan AI generatif secara tidak etis dalam pendidikan tinggi. Padahal menurut survei pada Januari lalu, hampir 90% akademisi percaya bahwa mayoritas mahasiswa kini telah menggunakan AI, khususnya model bahasa besar (Large Language Models/LLMs).

Wakil Presiden Inovasi Digital di American Association of Colleges and Universities menyebutkan bahwa dunia pendidikan AS tengah menghadapi perubahan besar akibat pesatnya perkembangan teknologi. “Tantangannya adalah mengubah gangguan hari ini jadi inovasi masa depan pada pengajaran dan pembelajaran,” ujarnya.

Kasus ini membuka diskusi baru: sejauh mana penggunaan AI dalam pendidikan dapat diterima? Dan apakah transparansi serta etika penggunaannya menjadi syarat mutlak untuk menjaga kepercayaan antara pengajar dan mahasiswa?