OJK: Perbankan Jawa Barat Tumbuh Positif di 2025, Kredit Tembus Rp628 Triliun

Sektor perbankan di Jawa Barat mencatat pertumbuhan positif sepanjang tahun berjalan hingga Juni 2025.

Aug 13, 2025 08:51 · 1 tahun lalu
OJK: Perbankan Jawa Barat Tumbuh Positif di 2025, Kredit Tembus Rp628 Triliun
Perbankan Jawa Barat Tumbuh Positif di 2025, Kredit Tembus Rp628 Triliun

INFOBAIK I BANDUNG, - Sektor perbankan di Jawa Barat mencatat pertumbuhan positif sepanjang tahun berjalan hingga Juni 2025. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat menunjukkan, total aset, dana pihak ketiga (DPK), dan kredit masing-masing tumbuh 2,45 persen, 3,63 persen, dan 3,64 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).

Kepala OJK Provinsi Jawa Barat, Darwisman, mengungkapkan tingkat risiko kredit yang tercermin dari rasio Net Performing Loan (NPL) berada di angka 4,28 persen, masih dalam batas aman. Sementara fungsi intermediasi perbankan juga terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) di level 91,89 persen.

 “Meski pertumbuhan kredit di Jabar lebih rendah dibanding rata-rata nasional, secara fundamental perbankan masih sehat dan intermediasi tetap optimal,” kata Darwisman, Rabu (13/8/2025) 

Kredit Jabar Capai Rp628 Triliun

Berdasarkan data sebaran nasional, penyaluran kredit bank umum di Jawa Barat mencapai Rp628 triliun atau tumbuh 3,63 persen YoY. Angka ini menempatkan Jabar sebagai provinsi kedua terbesar setelah DKI Jakarta, dengan pangsa pasar 7,79 persen dari total kredit nasional.

Kredit terbesar terserap di sektor KPR dan KPB sebesar Rp181,38 triliun (tumbuh 5,58 persen YoY) dan bukan lapangan usaha rumah tangga Rp126,74 triliun (tumbuh 11,62 persen YoY).

Namun, sejumlah sektor mengalami kontraksi cukup dalam, seperti perdagangan besar dan eceran (-4,70 persen), konstruksi (-13,58 persen), serta kategori “bukan lapangan usaha lainnya” (-5,39 persen). Kenaikan risiko kredit di sektor-sektor tersebut menjadi salah satu penyebab perlambatan.

Dari sisi persebaran, DPK dan kredit perbankan di Jabar terkonsentrasi di Kota Bandung (DPK 34,96 persen; Kredit 31,59 persen), Kota Bekasi (DPK 14,01 persen; Kredit 13,48 persen), dan Kota Bogor (DPK 9,37 persen; Kredit 7,23 persen). Sementara rasio NPL tertinggi tercatat di Kota Banjar, Kota Sukabumi, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Tasikmalaya.

Bank Umum dan BPR

Secara fungsional, perbankan di Jabar masih didominasi Bank Umum dengan pangsa aset, DPK, dan kredit masing-masing di atas 96 persen. Meski begitu, total aset Bank Umum berkantor pusat di Jabar justru turun 3,09 persen YoY menjadi Rp194 triliun. DPK juga turun 3,70 persen menjadi Rp139 triliun, dan kredit turun 1,99 persen menjadi Rp127 triliun.

Penurunan ini berdampak pada laba yang anjlok 36,73 persen menjadi Rp539 miliar, akibat meningkatnya pencadangan seiring naiknya NPL gross dari 1,67 persen menjadi 2,71 persen.

Sementara itu, BPR dan BPRS di Jabar justru menunjukkan tren positif. Aset tumbuh 3,33 persen menjadi Rp32,64 triliun, DPK naik 4,66 persen menjadi Rp22,55 triliun, dan kredit naik 3,87 persen menjadi Rp24,09 triliun. Laba melonjak signifikan 247,59 persen menjadi Rp170 miliar, meski NPL gross meningkat dari 11,76 persen menjadi 13,27 persen.

Kredit UMKM dan Literasi Keuangan

Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jawa Barat hingga Juni 2025 mencapai Rp13,74 triliun atau 10,58 persen dari nasional, menjadikannya penerima KUR terbesar ketiga di Indonesia. Sebagian besar (63,59 persen) terserap di sektor mikro.

OJK Jabar juga gencar mengedukasi masyarakat. Sepanjang semester I 2025, ada 1.433 kegiatan literasi keuangan dengan total peserta 173.492 orang. Program unggulan seperti Bulan Literasi Keuangan dan Kampung Bersih Rentenir menjadi bagian dari Gerakan Nasional Cerdas Keuangan menuju Indonesia Emas 2045.

"Dengan kombinasi pertumbuhan aset, DPK, dan kredit, meski dibayangi perlambatan di beberapa sektor, perbankan Jawa Barat di 2025 tetap menunjukkan daya tahan dan peran strategis dalam mendukung perekonomian daerah," tutup Darwisman