OJK: Stabilitas Perbankan Jawa Barat Terjaga, Kredit Tembus Rp1.036 Triliun

Kinerja industri perbankan di Provinsi Jawa Barat hingga Oktober 2025 menunjukkan sinyal positif di tengah tantangan ekonomi nasional yang masih dinamis.

Dec 6, 2025 11:16 · 10 bulan lalu
OJK: Stabilitas Perbankan Jawa Barat Terjaga, Kredit Tembus Rp1.036 Triliun
OJK: Stabilitas Perbankan Jawa Barat Terjaga, Kredit Tembus Rp1.036 Triliun

INFOBAIK I BANDUNG, - Kinerja industri perbankan di Provinsi Jawa Barat hingga Oktober 2025 menunjukkan sinyal positif di tengah tantangan ekonomi nasional yang masih dinamis. Stabilitas sektor keuangan daerah tetap terjaga, ditopang oleh fungsi intermediasi yang berjalan optimal serta kondisi likuiditas yang memadai. Situasi ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat, Darwisman, menegaskan bahwa sektor perbankan di Jabar mencatat pertumbuhan tahunan (year on year/yoy) yang solid. Total aset perbankan meningkat 3,51 persen, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 5,58 persen, dan penyaluran kredit naik 4,02 persen secara tahunan.

“Ketahanan sektor perbankan Jawa Barat masih terjaga. Risiko kredit relatif terkendali dengan rasio NPL gross sebesar 3,46 persen, masih dalam batas aman. Tingkat Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencapai 140,97 persen menunjukkan perbankan tetap agresif menyalurkan kredit ke sektor riil,” ujar Darwisman, Sabtu (6/12/2025).

Berdasarkan lokasi proyek, total kredit bank umum di Jawa Barat telah mencapai Rp1.036 triliun. Meski pertumbuhannya masih berada di bawah rata-rata nasional yang tercatat 7,32 persen yoy, Jawa Barat tetap menempati posisi strategis sebagai wilayah penyaluran kredit terbesar kedua di Indonesia setelah DKI Jakarta, dengan pangsa pasar 12,34 persen terhadap total kredit nasional.

Dari sisi sektor ekonomi, kredit paling besar disalurkan ke sektor Rumah Tangga sebesar Rp434,61 triliun atau tumbuh 6,16 persen yoy. Industri Pengolahan juga mencatat kinerja impresif dengan penyaluran Rp166,03 triliun dan pertumbuhan 11,41 persen yoy, menandakan denyut aktivitas manufaktur masih kuat di Jawa Barat.

Namun demikian, perlambatan pertumbuhan kredit terjadi akibat penurunan pembiayaan pada beberapa sektor utama, seperti Perdagangan Besar dan Eceran, Transportasi dan Pergudangan,以及 sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. Meski begitu, sejumlah sektor tetap mengalami ekspansi signifikan dengan risiko terkendali, di antaranya Konstruksi yang tumbuh 9,18 persen yoy dan Real Estat yang melonjak 11,29 persen yoy.

Dari sisi spasial, Kota Bandung masih menjadi kantong DPK terbesar dengan nilai Rp248,53 triliun, disusul Kota dan Kabupaten Bekasi, Kota Depok, dan Kabupaten Karawang. Sementara itu, penyaluran kredit terbesar tercatat di Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, dan Kota Bandung—mencerminkan kuatnya aktivitas ekonomi dan industri di kawasan tersebut.

Struktur industri perbankan Jawa Barat masih didominasi oleh perbankan konvensional dengan pangsa lebih dari 88 persen pada aset, DPK, dan kredit. Meski demikian, perbankan syariah terus menunjukkan penguatan dengan pangsa kredit mencapai 11,23 persen, mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap produk keuangan berbasis syariah.

Kontribusi sektor UMKM tetap menjadi pilar penting dalam menjaga ketahanan ekonomi daerah. Hingga Oktober 2025, penyaluran Kredit UMKM di Jawa Barat mencapai Rp186,93 triliun atau 12,47 persen dari total nasional, menempatkan Jawa Barat sebagai penerima Kredit UMKM terbesar kedua setelah Jawa Timur.

Untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga September 2025 sebanyak 428.495 pelaku usaha di Jawa Barat telah menikmati pembiayaan senilai Rp23,27 triliun. Skema KUR Mikro masih mendominasi dengan porsi hampir 65 persen dari total outstanding, menandakan fokus perbankan dalam mendukung pelaku usaha kecil dan ultra mikro.

Dengan stabilitas perbankan yang terjaga, ekspansi kredit yang selektif, serta dukungan pembiayaan UMKM yang kuat, sektor jasa keuangan Jawa Barat dipandang tetap menjadi motor penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi daerah menuju 2026.