PLTS Terapung Cirata Jadi Tonggak Energi Hijau: Indonesia Pionir Teknologi Surya di Atas Air, Efisien Tanpa Ganggu Lahan Produktif
PLTS Terapung Cirata di Jawa Barat menjadi proyek energi hijau terbesar di Indonesia. Menghemat lahan, ramah lingkungan, dan mampu bersaing dengan batu bara. Kolaborasi PLN–Masdar ini jadi simbol transisi energi menuju masa depan tanpa emisi.
INFOBAIK I PURWAKARTA, - Indonesia kembali menorehkan sejarah dalam pengembangan energi bersih melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata di Jawa Barat.
Proyek yang diinisiasi oleh PT Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energi (PMSE) ini menjadi simbol kemajuan teknologi hijau di Tanah Air sekaligus solusi inovatif dalam mengatasi keterbatasan lahan di Pulau Jawa.
Presiden Direktur PMSE, Dimas Kaharudin Indra Rupawan, menjelaskan bahwa pengembangan PLTS terapung bukan hanya efisien secara teknis, tetapi juga strategis secara ekonomi.
“PLTS darat membutuhkan lahan luas dan datar, biasanya bernilai ekonomi tinggi. Dengan konsep terapung, kita bisa hemat lahan sehingga area tersebut bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain seperti perumahan atau industri,” kata Dimas di Waduk Cirata, Sabtu (11/10/2025).
Dimas menilai, Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk mengembangkan energi surya di atas air. Bahkan, jika teknologi PLTS terapung bisa diterapkan di laut, kapasitasnya akan nyaris tak terbatas.
"Untuk melistriki seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke, luas laut yang dibutuhkan hanya sekitar 2.000 km² — setara setengah Pulau Bali. Artinya, potensi kita luar biasa besar tanpa harus membakar bahan bakar fosil sama sekali,” ungkapnya.
Proyek PLTS Terapung Cirata sendiri dibangun di atas Waduk Cirata, waduk buatan yang juga berfungsi sebagai PLTA dengan kapasitas terbesar di Indonesia. Lokasi ini dipilih karena dekat dengan jaringan transmisi dan infrastruktur yang sudah ada, sehingga efisiensi pembangunan dan distribusi energi dapat dimaksimalkan.
Menariknya, proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara PLN Nusantara Power dan Masdar, perusahaan energi asal Uni Emirat Arab. "Komposisi kepemilikan PLTS Cirata yakni 51% dimiliki Indonesia melalui PLN dan 49% oleh Masdar," ujarnya
PLTS berkapasitas hampir 200 megawatt ini hanya membutuhkan waktu tiga tahun dari tahap perencanaan hingga beroperasi penuh, pencapaian yang jarang terjadi untuk proyek skala besar. Selain ramah lingkungan, biaya produksinya kini mampu bersaing bahkan lebih murah dari pembangkit berbasis batu bara.
Selain menghasilkan listrik bersih, proyek ini membuka lapangan kerja lokal, menjadi pusat edukasi energi terbarukan, dan memicu lahirnya berbagai inisiatif serupa di daerah lain seperti Jatigede (Jawa Barat), Gresik, dan Bojonegoro (Jawa Timur).
“PLTS Terapung Cirata bukan hanya pembangkit, tapi juga simbol transisi energi Indonesia menuju masa depan hijau. Ini bukti bahwa energi terbarukan bukan sekadar wacana, tapi sudah jadi kenyataan,” pungkasnya
