Reshuffle Kabinet Bisa Tekan Elektabilitas Dedi Mulyadi?

Rocky Gerung menilai reshuffle kabinet Prabowo pada September-Oktober 2026 dapat meningkatkan elektabilitas Presiden dan memengaruhi posisi Dedi Mulyadi.

Aug 12, 2026 16:00 · 2 bulan lalu
Reshuffle Kabinet Bisa Tekan Elektabilitas Dedi Mulyadi?
Reshuffle Kabinet Bisa Tekan Elektabilitas Dedi Mulyadi?

INFOBAIK I JAKARTA, — Wacana reshuffle kabinet Presiden Prabowo Subianto kembali mendapat sorotan setelah sejumlah hasil survei menunjukkan elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berada di atas Prabowo dalam simulasi calon presiden.

Pengamat politik Rocky Gerung menilai langkah perombakan kabinet secara besar-besaran dapat meningkatkan elektabilitas Prabowo. Ia menyebut periode September hingga Oktober 2026 berpotensi menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan perubahan susunan kabinet.

Rocky menyampaikan pandangan tersebut melalui kanal YouTube Total Politik yang dikutip pada Selasa (11/8/2026).

Menurut Rocky, pemerintah dapat memperoleh respons positif dari masyarakat jika reshuffle menjawab tuntutan publik terhadap kinerja para menteri.

"Kalau misalnya Presiden Prabowo lakukan radical break September Oktober itu ya presiden pasti naik elektabilitasnya," kata Rocky.

Ia menilai perubahan kabinet yang sesuai dengan aspirasi masyarakat dapat memberikan dampak terhadap persepsi publik terhadap pemerintahan Prabowo.

Rocky kemudian mengaitkan potensi kenaikan elektabilitas Prabowo dengan posisi Dedi Mulyadi dalam sejumlah survei. Menurut dia, jika elektabilitas Prabowo meningkat secara signifikan, posisi Dedi dalam peta elektoral dapat ikut terdampak.

"Kalau itu terjadi pasti elektabilitas presiden naik artinya ya Dedi pasti turun kan enggak mungkin dia naik Dedi juga naik," ujar Rocky.

Dedi Unggul dalam Survei SMRC

Sejumlah survei pada akhir Juli 2026 memang mencatat posisi Dedi Mulyadi yang kompetitif dalam simulasi calon presiden.

Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menempatkan Dedi di posisi teratas dalam simulasi semi terbuka dengan elektabilitas 35 persen. Prabowo berada di posisi kedua dengan angka 14,5 persen.

Dalam simulasi head to head, SMRC mencatat Dedi meraih 59 persen, sedangkan Prabowo memperoleh 28,3 persen.

Indikator Politik Indonesia juga mencatat keunggulan Dedi dalam simulasi elektabilitas. Survei tersebut menunjukkan tingkat pengenalan publik terhadap Prabowo mencapai 98,8 persen, sedangkan Dedi mencapai 88,2 persen.

Namun, tingkat kesukaan responden terhadap Dedi mencapai 88,3 persen, lebih tinggi dibandingkan Prabowo yang berada di angka 68,1 persen.

Hasil survei tersebut membuat wacana reshuffle kabinet memiliki dimensi politik yang lebih luas. Perubahan susunan kabinet tidak hanya menyangkut evaluasi kinerja pemerintahan, tetapi juga berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap para tokoh yang masuk dalam bursa politik nasional.