Rocky Gerung dan Menkum Bongkar Masalah Besar Kampus Indonesia: Riset Hebat, Tapi Gagal Jadi Bisnis

Rocky Gerung dan Menkum Supratman soroti riset kampus Indonesia yang mandek jadi jurnal. ITB didorong cetak paten berbasis kekayaan alam untuk industri nasional.

May 12, 2026 16:36 · 5 bulan lalu
Rocky Gerung dan Menkum Bongkar Masalah Besar Kampus Indonesia: Riset Hebat, Tapi Gagal Jadi Bisnis
Rocky Gerung dan Menkum Bongkar Masalah Besar Kampus Indonesia: Riset Hebat, Tapi Gagal Jadi Bisnis

INFOBAIK I BANDUNG – Dunia kampus Indonesia dinilai masih menghadapi masalah besar: riset melimpah, tetapi minim yang berubah menjadi paten dan bisnis bernilai ekonomi. 

Persoalan itu menjadi sorotan dalam pertemuan Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas, dengan akademisi sekaligus pengamat politik, Rocky Gerung, di Sabuga Institut Teknologi Bandung (ITB), Selasa 12 Mei 2026.

Dalam forum tersebut, keduanya kompak mendorong perguruan tinggi agar tidak lagi sekedar mengejar publikasi ilmiah, melainkan mampu melahirkan inovasi yang benar-benar dipakai industri dan menghasilkan keuntungan bagi negara.

Menteri Hukum Supratman Andi Agtas menegaskan Indonesia memiliki kekayaan alam luar biasa, mulai dari energi, mineral hingga biomolekul yang dapat diolah menjadi kekayaan intelektual bernilai tinggi. Namun selama ini, banyak hasil penelitian kampus berhenti hanya sebagai jurnal ilmiah.

“Penelitian itu jangan berhenti di publikasi. Negara harus hadir menjembatani agar penelitian bisa menjadi aset yang berguna dan bernilai ekonomi,” ujar Supratman di Sabuga ITB Bandung, Selasa (12/5/2026)

Menurutnya, salah satu persoalan terbesar adalah mandeknya komunikasi antara peneliti dengan dunia industri. Banyak inovasi kampus yang dinilai potensial, namun gagal masuk pasar karena tidak adanya jembatan antara ilmuwan dan pelaku usaha.

Oleh karena itu, Kementerian Hukum kini mengambil peran sebagai mediator agar hasil penelitian kampus dapat dikembangkan menjadi produk industri, termasuk memperkuat perlindungan hak kekayaan intelektual dan proses paten.

Supratman menyebut menyisihkan juga menggalang berbagai lembaga seperti pemerintah daerah, BRIDA, hingga BRIN untuk membangun ekosistem inovasi nasional yang lebih terintegrasi.

“Kita bekerja sama dengan semua pihak agar penelitian kampus bisa lebih cepat menjadi produk yang dimanfaatkan masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Rocky Gerung menilai Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk menjadi negara berbasis inovasi karena kaya sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. Namun, potensi tersebut belum dikelola secara maksimal oleh perguruan tinggi.

Rocky bahkan menyentil budaya akademik yang selama ini dinilai terlalu sibuk menghasilkan teori tanpa keberanian membawa hasil penelitian ke tingkat industri dan bisnis.

“Nah tadi Pak Menteri merangsang kampus untuk jadi agen utama memulai penelitian supaya dia bisa berubah menjadi paten, lalu paten menjadi bisnis,” ujar Rocky.

Ia juga mendorong pemerintah agar mengalokasikan dana penelitian lebih besar melalui LPDP kepada kampus-kampus yang terbukti mampu menghasilkan strategi inovasi.

Menurutnya, perguruan tinggi seperti ITB dan Universitas Padjadjaran layak mendapat dukungan lebih besar apabila mampu melahirkan penelitian yang berdampak langsung terhadap perekonomian nasional.

Rocky menilai langkah itu penting agar Indonesia tidak terus bergantung pada ekspor bahan mentah, tetapi mulai menjadi negara penghasil teknologi dan hak kekayaan intelektual berbasis kekayaan alam sendiri.

Pertemuan di ITB tersebut pun memunculkan pesan kuat: masa depan perekonomian Indonesia tidak hanya bergantung pada tambang dan sumber daya alam, tetapi juga pada kemampuan menggandakan penelitian menjadi paten, dan paten menjadi kekuatan industri nasional.