Rupiah Anjlok ke Rp 17.600, Haruskah Tabungan Dialihkan ke Dollar AS?

Rupiah anjlok hingga Rp 17.600 per dollar AS. Pakar keuangan mengingatkan masyarakat agar tidak panik menukar tabungan ke dollar dan menyarankan strategi investasi bertahap.

May 19, 2026 15:30 · 5 bulan lalu
Rupiah Anjlok ke Rp 17.600, Haruskah Tabungan Dialihkan ke Dollar AS?
Rupiah Anjlok ke Rp 17.600, Haruskah Tabungan Dialihkan ke Dollar AS? /Media Konsumen

INFOBAIK I BANDUNG,- Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dollar AS mulai memicu kekhawatiran masyarakat. Di tengah kurs yang sempat menyentuh level Rp 17.600 per dollar AS, banyak orang mulai bertanya-tanya apakah tabungan mereka sebaiknya dialihkan ke mata uang asing.

Namun, para ahli keuangan mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil keputusan secara emosional hanya karena panik melihat rupiah tertekan.

Perencana keuangan sekaligus Founder Finante.id, Rista Zwestika, menegaskan bahwa masyarakat sebaiknya tetap fokus pada tujuan keuangan jangka panjang, bukan sekadar mengikuti tren kenaikan dollar AS.

“Fokus utama tetap pada tujuan keuangan dan kebutuhan masing-masing,” ujarnya dikutip Kompas.com

Menurut Rista, pelemahan rupiah memang bisa menjadi momentum untuk mulai melakukan diversifikasi aset, termasuk mempertimbangkan investasi berbasis dollar AS. Namun langkah tersebut harus dilakukan secara bertahap dan terukur.

Salah satu strategi yang disarankan adalah menggunakan metode dollar cost averaging (DCA), yakni membeli aset dollar secara berkala dalam nominal tertentu. Strategi ini dinilai lebih aman dibanding langsung membeli dollar dalam jumlah besar saat kurs sedang tinggi.

“Dengan membeli bertahap, risiko membeli di harga puncak bisa ditekan,” katanya.

Fenomena rupiah yang terus melemah juga memunculkan tren masyarakat mulai melirik reksadana berbasis dollar AS dan tabungan valas. Produk tersebut dianggap mampu memberikan perlindungan nilai aset ketika rupiah mengalami tekanan.

Meski demikian, Rista mengingatkan bahwa langkah ekstrem seperti menukar seluruh tabungan rupiah ke dollar AS tanpa perencanaan justru berbahaya. Banyak masyarakat dinilai terjebak panic buying hanya karena takut rupiah akan terus anjlok.

Kesalahan lain yang kerap terjadi adalah menggunakan dana kebutuhan harian atau dana darurat untuk berspekulasi di pasar valuta asing. Padahal, pergerakan kurs sangat fluktuatif dan sulit diprediksi dalam jangka pendek.

Sebagai ilustrasi, seseorang yang membeli dollar AS di level Rp 16.500 bisa mengalami kerugian jika rupiah kembali menguat ke Rp 15.800. Nilai aset dalam rupiah otomatis ikut turun.

Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah terbawa tren sesaat. Diversifikasi aset memang penting, tetapi tetap harus disesuaikan dengan profil risiko dan kebutuhan keuangan masing-masing.

Di sisi lain, analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor domestik dan global. Dari dalam negeri, pasar menyoroti perdebatan data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026.

Sementara dari eksternal, konflik Timur Tengah dan meningkatnya tensi antara Amerika Serikat dan Iran membuat harga minyak dunia melonjak tajam dan mendorong penguatan dollar AS.

Ketegangan di Selat Hormuz bahkan disebut menjadi momok baru bagi pasar keuangan global karena berpotensi mengganggu distribusi energi dunia.

Akibat tekanan tersebut, dampak pelemahan rupiah kini mulai terasa di kehidupan masyarakat. Harga bahan pangan impor, tiket pesawat, hingga biaya pendidikan luar negeri terancam ikut naik jika kurs dollar terus menguat.

Kondisi ini membuat masyarakat dihadapkan pada dilema: mempertahankan tabungan dalam rupiah atau mulai mengamankan sebagian aset dalam dollar AS. Namun satu hal yang pasti, keputusan finansial sebaiknya tetap dilakukan dengan perhitungan matang, bukan karena kepanikan pasar.