Tekstil RI Bangkit! India Siap Transfer Teknologi di Tengah Krisis Energi dan Rantai Pasok

Kolaborasi strategis Indonesia dan India di Bandung membuka harapan baru bagi industri tekstil global yang terdampak lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok. Fokus pada inovasi, efisiensi, dan modernisasi teknologi.

Apr 14, 2026 16:09 · 6 bulan lalu
Tekstil RI Bangkit! India Siap Transfer Teknologi di Tengah Krisis Energi dan Rantai Pasok
Tekstil RI Bangkit! India Siap Transfer Teknologi di Tengah Krisis Energi dan Rantai Pasok

INFOBAIK I BANDUNG,- Saat ini dunia industri dilanda dampaknya termasuk harga energi dan terganggunya rantai pasok global. Harapan baru muncul dari Bandung ketika india dan India sepakat memperkuat kolaborasi strategi di sektor tekstil dan garmen.

Kenaikan harga bahan bakar dunia yang memicu konflik geopolitik, termasuk ketegangan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, berdampak langsung pada industri tekstil global. Biaya produksi meningkat, harga bahan baku melonjak, dan distribusi menjadi semakin kompleks. Kondisi ini mendorong pelaku industri untuk mencari solusi kolaboratif guna menjaga daya saing.

Momentum tersebut dimanfaatkan melalui pertemuan antara Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan India ITME Society yang digelar di Bandung pada 13 April 2026. Sekitar 50 pelaku industri dari kedua negara hadir dalam forum ini untuk membahas strategi peningkatan produktivitas dan efisiensi industri tekstil.

Ketua India ITME Society, Ketan Sanghvi, menegaskan komitmennya untuk mewujudkan kerja sama erat dengan Indonesia, khususnya dalam modernisasi mesin dan inovasi teknologi tekstil. Ia menyebut india dan India sebagai mitra strategis yang saling melengkapi.

“Kami siap berkolaborasi dalam inovasi dan modernisasi permesinan industri tekstil Indonesia. Kemitraan ini sangat penting untuk menghadapi tantangan global,” ujar Ketan.

Menurutnya, India memiliki kekuatan pada sektor manufaktur mesin tekstil, mulai dari pemintalan hingga proses dan penenunan. Sementara Indonesia unggul dalam pengalaman produksi serta memiliki pasar domestik yang besar dan terus berkembang.

Ketan menilai kombinasi kekuatan tersebut akan menciptakan solusi saling menguntungkan (win-win solution), terutama di tengah tekanan global seperti gangguan rantai pasok dan kenaikan biaya energi.

Ia juga mengakui bahwa konflik di Timur Tengah berdampak pada industri, terutama dari sisi logistik dan kenaikan harga minyak mentah yang turut mempengaruhi harga benang sintetis. Meski begitu, ia optimistis kondisi ini hanya bersifat sementara.

“Ketika situasi membaik, harga akan stabil dan permintaan akan kembali meningkat. Industri juga terus berupaya meningkatkan efisiensi dan inovasi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum API, Jemmy Kartiwa, menyambut positif kolaborasi ini. Ia menilai India telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam teknologi mesin tekstil yang mampu meningkatkan produktivitas industri.

“Kami berharap kerja sama ini dapat dimanfaatkan anggota API untuk belajar dan meningkatkan daya saing industri nasional,” ujarnya.

API bersama India ITME Society juga menggelar Interactive Business Session di Bandung sebagai wadah strategi untuk mempertemukan pelaku industri kedua negara. Forum ini diharapkan membuka peluang investasi, perdagangan, serta transfer teknologi.

Indonesia sendiri dinilai sebagai pasar potensial, didukung oleh pertumbuhan kelas menengah, meningkatnya daya beli masyarakat, serta tren global menuju fesyen berkelanjutan dan digitalisasi rantai pasok.

Jemmy menambahkan bahwa industri tekstil nasional kini tengah melakukan berbagai langkah strategi, termasuk efisiensi energi dan peningkatan produktivitas melalui transformasi teknologi.

“Produktivitas penting, namun sektor padat karya juga harus tetap terjaga. Ini menjadi keseimbangan yang harus kita pertahankan,” tegasnya.

Oleh karena itu, Wakil Ketua Umum API, David Leonardi, menyoroti pentingnya kerja sama ini mengingat Indonesia masih bergantung pada impor mesin tekstil. Ia melihat teknologi dari India semakin canggih dan relevan untuk kebutuhan industri ke depan. Meski kondisi industri saat ini masih penuh tantangan, ia optimistis kerja sama internasional seperti ini akan menjadi kunci bertahan dan bangkit.

“Situasi ini seperti seleksi alam. Industri yang mampu beradaptasi dan berkolaborasi akan menjadi pemenang,” tutupnya.