Bio Farma Dorong Konservasi Mangrove Berbasis Teknologi
Bio Farma melibatkan karyawan dalam konservasi mangrove di Karawang melalui teknologi geotagging dan QR Code untuk memantau pertumbuhan tanaman.
INFOBAIK I KARAWANG — Upaya konservasi mangrove di Desa Muarabaru, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, kini dikembangkan dengan pendekatan berbasis teknologi.
PT Bio Farma (Persero) melibatkan karyawan dalam program Mangrove For Life (Beri Nama Mangrovemu) yang memungkinkan setiap pohon mangrove diberi identitas melalui geotagging dan QR Code.
Program yang dilaksanakan pada 24 September 2026 tersebut menjadi bagian dari komitmen Bio Farma dalam menjalankan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sekaligus membangun keterlibatan karyawan dalam agenda keberlanjutan perusahaan.
Melalui teknologi geotagging dan QR Code, mangrove yang ditanam tidak hanya tercatat sebagai bagian dari kegiatan penanaman, tetapi juga memiliki identitas yang memungkinkan keberadaan dan perkembangannya dipantau secara lebih terstruktur.
Pendekatan tersebut membuat keterlibatan karyawan tidak berhenti ketika proses penanaman selesai. Setiap pohon menjadi representasi kontribusi individu sekaligus sarana bagi karyawan untuk mengikuti perkembangan tanaman yang mereka tanam.
Kepala Divisi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, HSE, Aset dan Umum Bio Farma, Hidayat Setiadji, mengatakan penerapan teknologi dalam program tersebut ditujukan untuk memperkuat keterikatan karyawan terhadap kegiatan konservasi.
“Melalui geotagging dan QR Code, setiap mangrove memiliki identitas, dan perkembangannya dapat dipantau secara lebih terstruktur. Kami ingin membangun keterikatan antara karyawan dan pohon yang mereka tanam sehingga kegiatan ini tidak berhenti pada momen penanaman. Semangat yang ingin kami bangun adalah semangat untuk tumbuh bersama. Ketika mangrove tumbuh, kepedulian terhadap lingkungan juga ikut tumbuh,” ujar Adji, Rabu (30/9/2026)
BACA JUGA:Bio Farma Perluas Jejak Industri Vaksin Indonesia ke Ghana Lewat Transfer Teknologi
Menurut dia, keterlibatan karyawan menjadi bagian penting dalam membangun budaya keberlanjutan di lingkungan perusahaan.
“Kami ingin keberlanjutan tidak hanya menjadi program perusahaan, tetapi juga menjadi kesadaran bersama seluruh insan Bio Farma. Ketika karyawan terlibat langsung dan dapat mengikuti perkembangan mangrove yang mereka tanam, rasa memiliki terhadap program dan lingkungan akan tumbuh lebih kuat,” tambahnya.
Program Mangrove For Life tidak hanya berfokus pada penanaman bibit. Bio Farma juga mendorong pemeliharaan, pemantauan, keterlibatan masyarakat, serta keberlanjutan tanaman agar manfaat konservasi dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Pelibatan karyawan sekaligus diarahkan untuk memperkuat employee engagement melalui kegiatan yang memiliki dampak sosial dan lingkungan. Dengan demikian, program TJSL tidak hanya menyasar penerima manfaat di luar perusahaan, tetapi juga membangun partisipasi dan kepedulian insan Bio Farma terhadap agenda keberlanjutan.
Di sisi lain, masyarakat Desa Muarabaru tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan pesisir. Bio Farma telah terlibat dalam kegiatan konservasi mangrove di wilayah tersebut sejak 2023 bersama masyarakat dan pemangku kepentingan setempat.
Ketua Cipta Pesona Desa (CPD) Muarabaru, Ahmad Fatoni, mengatakan kegiatan konservasi menjadi salah satu upaya masyarakat untuk mendorong perubahan kondisi desa.
“Ketika desa kami termasuk salah satu desa tertinggal, itu menjadi keprihatinan tersendiri. Kami kemudian mencoba mencari jalan agar desa ini dapat menjadi desa yang berdaya. Salah satu langkah awal yang kami lakukan adalah melalui kegiatan konservasi,” ujar Ahmad.
Menurut dia, keterlibatan berbagai pihak dalam konservasi mulai memberikan perubahan terhadap kawasan pesisir Muarabaru. Kondisi pantai disebut semakin hijau, sementara ekosistem pesisir mulai berkembang.
“Perubahan yang kami rasakan ketika Bio Farma hadir melakukan kegiatan konservasi, pantai kami semakin hijau dan kondisi abrasi semakin terkendali. Ekosistem di pesisir juga mulai berkembang. Habitat udang, ikan, ataupun burung mulai terlihat, padahal sebelumnya sangat jarang terjadi di sini,” katanya.
Perkembangan kawasan mangrove tersebut juga mendapat perhatian dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Penyuluh Kehutanan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah II, Dedi Jatnika, mengatakan kondisi mangrove di Desa Muarabaru menunjukkan perkembangan positif melalui kolaborasi antara masyarakat dan perusahaan.
Menurut Dedi, keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh proses penanaman, tetapi juga konsistensi pemeliharaan setelah bibit ditanam.
“Komitmen dari semua pihak adalah yang paling utama. Seperti yang dijalankan KTH Cipta Pesona di sini, kolaborasi dengan perusahaan memungkinkan tingkat keberhasilan tanam tumbuh mencapai lebih dari 90 persen dalam tiga tahun,” ungkap Dedi.
Ia menambahkan, kolaborasi lintas pihak diperlukan karena konservasi mangrove membutuhkan proses pemeliharaan dan pengawasan secara berkelanjutan.
“Kolaborasi semakin meningkat, itu yang kami harapkan. Kita tidak bisa bekerja sendirian. Kita harus bekerja sebagai tim untuk menyukseskan program penanaman mangrove,” tambahnya.
Mangrove memiliki fungsi sebagai perlindungan alami kawasan pesisir sekaligus mendukung keseimbangan ekosistem dan menyediakan habitat bagi berbagai jenis biota.
Melalui Mangrove For Life, Bio Farma memadukan teknologi, keterlibatan karyawan, pemberdayaan masyarakat, serta kolaborasi dengan pemangku kepentingan dalam satu rangkaian kegiatan konservasi. Pendekatan tersebut diarahkan agar kegiatan tidak berhenti pada penanaman, tetapi berlanjut pada pemantauan dan pemeliharaan.
Selain konservasi mangrove, Bio Farma juga melanjutkan dukungan kepada masyarakat Desa Muarabaru melalui peningkatan sarana sanitasi sebagai bagian dari keberlanjutan program TJSL di wilayah tersebut.
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, Bio Farma menyatakan akan terus mengembangkan program TJSL yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan, termasuk dengan memperluas ruang partisipasi karyawan dalam agenda keberlanjutan.
Kolaborasi perusahaan, karyawan, masyarakat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan diharapkan dapat menjaga keberlanjutan kawasan pesisir sekaligus mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar kawasan konservasi.
