Bio Farma Jadi Pemimpin Vaksin Negara Berkembang, Indonesia Kunci Akses Vaksin Dunia
Indonesia menjadi pemain kunci dalam jejaring produsen vaksin negara berkembang (DCVMN). Melalui Bio Farma, Indonesia membangun kemandirian vaksin global, memimpin inovasi, dan membuka akses vaksin yang aman, bermutu, dan terjangkau bagi dunia.
INFOBAIK I BANDUNG, - Indonesia semakin mempertegas peran strategisnya dalam peta kesehatan dunia. Melalui PT Bio Farma (Persero), Indonesia bukan hanya sekadar produsen vaksin, tetapi juga aktor utama dalam diplomasi kesehatan global melalui jejaring Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN). Jejak ini bukan baru, tetapi sudah dibangun sejak forum tersebut berdiri pada tahun 2000.
Bio Farma tercatat sebagai salah satu dari sepuluh pendiri DCVMN dan menjadi penggerak kemandirian vaksin di negara berkembang. Setahun setelah pertemuan pertama di Noordwijk, Bandung menjadi tuan rumah AGM ke-2 DCVMN pada 2001, menjadikan Indonesia sebagai center of knowledge sharing bagi produsen vaksin dunia.
“Keterlibatan Bio Farma dalam DCVMN sejak awal bukan hanya soal representasi Indonesia, tetapi kontribusi nyata bagi kemandirian vaksin global,” ujar Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, Senin (20/10/2025).
Komitmen tersebut dibuktikan dalam berbagai capaian konkret. Pada 2004, kolaborasi Bio Farma dengan anggota DCVMN berhasil memperluas akses vaksin kombinasi DPT-HepB-Hib hasil alih teknologi dengan Netherlands Vaccine Institute. Kepercayaan global meningkat, hingga Indonesia kembali menjadi tuan rumah AGM DCVMN pada 2012 di Bali, sebelum kemudian Bio Farma dipercaya memimpin sebagai Chair of the Board DCVMN periode 2023–2025.
Puncak pengakuan dunia terjadi pada 2020, ketika vaksin nOPV2 buatan Bio Farma menjadi vaksin pertama di dunia yang memperoleh Emergency Use Listing (EUL) dari WHO. Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa produsen vaksin negara berkembang mampu memimpin sains, bukan sekadar mengikuti negara maju.
“Pencapaian ini membuktikan bahwa kami mampu memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat WHO. Ini simbol kemandirian teknologi negara berkembang,” tegas Shadiq.
Dengan kapasitas produksi 3,5 miliar dosis per tahun, sertifikasi WHO untuk 12 vaksin, dan ekspor ke lebih dari 150 negara, Bio Farma kini menjadi motor kemandirian vaksin global. Forum 26th DCVMN AGM Bali 29–31 Oktober 2025 pun disebut akan menjadi panggung penting bagi Indonesia dalam memperkuat diplomasi kesehatan dunia.
Shadiq menegaskan, “Melalui forum ini, kami ingin memastikan akses vaksin yang berkeadilan bagi semua negara.”
Indonesia bukan lagi penonton. Indonesia adalah pemain sentral — dan melalui Bio Farma, kedaulatan vaksin dunia berkembang kini benar-benar memiliki rumah.
