Bio Farma–Hermina Hadirkan Terobosan Radiofarmaka Lokal untuk Revolusi Teknologi Diagnostik Kanker Berbasis PET Scan
Bio Farma dan Hermina hadirkan radiofarmaka FloDeg untuk PET Scan, teknologi inovatif buatan Indonesia yang mempercepat deteksi dini kanker
INFOBAIK I JAKARTA, - Indonesia mencatat tonggak penting dalam kemajuan teknologi kesehatan. PT Bio Farma (Persero) resmi menggandeng Hermina Hospitals melalui PT Medika Loka Manajemen (MLM) untuk pemanfaatan radiofarmaka Fludeoxyglucose-18F (FloDeg), inovasi pertama buatan dalam negeri yang dirancang khusus untuk mendukung diagnosis kanker berbasis PET Scan secara lebih akurat, cepat, dan presisi.
Penandatanganan nota kesepahaman berlangsung di Hermina Tower, Kemayoran, Jakarta, Kamis (16/10/2025), oleh Direktur Sales Bio Farma dr. Kamelia Faisal dan Direktur Utama PT MLM Dr. Yulisar Khiat. Melalui kemitraan ini, Bio Farma menjadi pemasok resmi FloDeg untuk RS Hermina Bekasi, salah satu rumah sakit rujukan layanan onkologi berbasis teknologi di Indonesia.
Dalam keterangan resminya, dr. Kamelia Faisal menyebut FloDeg sebagai terobosan strategi di bidang radiofarmaka yang mengubah masa depan deteksi kanker di Indonesia.
“Radiofarmaka FloDeg menjadi solusi presisi dan modern bagi pemeriksaan PET Scan. Dengan teknologi ini, kami ingin memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga produsen teknologi diagnostik kanker berteknologi tinggi,” ujar Kamelia, Minggu (19/10/2025).
FloDeg bekerja dengan prinsip pelacakan metabolisme sel kanker menggunakan FDG-18F, yang kemudian diaktifkan oleh Positron Emission Tomography (PET) Scan. Karena sel kanker memiliki aktivitas metabolik yang tinggi, FDG akan terakumulasi lebih banyak di titik sel abnormal, sehingga dokter dapat mendeteksi kanker secara lebih dini, detail, dan meminimalkan kesalahan penilaian.
Produk radiofarmaka ini diproduksi di fasilitas Cyclotron Bio Farma di Cikarang, yang telah mendapat sertifikasi CPOB dari BPOM serta memenuhi protokol keselamatan radiasi BAPETEN. Cyclotron berfungsi mempercepat partikel untuk menghasilkan isotop radioaktif, teknologi yang sebelumnya hampir seluruhnya bergantung pada impor.
Yulisar Khiat mengatakan bahwa kolaborasi ini akan mempercepat transformasi layanan onkologi berbasis sains.
“Dengan FDG produksi dalam negeri, pemeriksaan PET Scan akan lebih cepat, lebih stabil dari sisi pasokan, dan akurasinya tetap berstandar internasional. Ini langkah maju bagi pelayanan kanker di Indonesia,” ujarnya.
FloDeg juga disebut sebagai game changer, karena kecepatan distribusinya akan menurunkan risiko degradasi isotop yang memiliki waktu paruh pendek sehingga hasil pemeriksaan dapat lebih optimal. Kolaborasi ini sekaligus memperkuat tujuan Indonesia dalam membangun ekosistem kemandirian teknologi kesehatan, sesuai peta jalan transformasi kesehatan nasional.
