China Jadi Raja Energi Surya Dunia
China mencetak rekor energi surya dunia pada 2025 dengan tambahan listrik tenaga surya 336 TWh, melampaui gabungan seluruh negara lain.
INFOBAIK I BANDUNG,- China kembali menunjukkan dominasinya dalam transisi energi global.
Negeri Tirai Bambu itu menambah produksi listrik tenaga surya baru sebesar 336 terawatt-hour (TWh) sepanjang 2025, melampaui gabungan tambahan listrik surya dari seluruh negara lain di dunia yang hanya mencapai 300 TWh.
Data terbaru dari Ember Global Electricity Review 2026 mengungkapkan bahwa China menyumbang 53% dari seluruh tambahan pembangkit listrik tenaga surya global selama 2025. Capaian tersebut mempertegas posisi China sebagai mesin utama pertumbuhan energi bersih dunia.
Jika dibandingkan dengan kawasan lain, selisihnya sangat mencolok. Asia di luar China hanya menambah 90 TWh, Amerika Utara 86 TWh, dan Eropa 80 TWh. Amerika Latin dan Karibia mencatat tambahan 24 TWh, Timur Tengah 10 TWh, Oseania 6 TWh, sedangkan Afrika hanya 4 TWh.
Bahkan ketika tiga kawasan terbesar setelah China digabungkan, total tambahan listrik tenaga surya mereka tetap belum mampu menyaingi pencapaian China dalam satu tahun.
Skala pertumbuhan itu semakin mencengangkan ketika dikaitkan dengan kebutuhan listrik sebuah negara. Tambahan tenaga surya China sepanjang 2025 tercatat lebih besar dibandingkan total konsumsi listrik Inggris yang mencapai 322 TWh pada periode yang sama.Artinya, kapasitas surya baru yang dipasang China dalam setahun mampu menghasilkan listrik melebihi kebutuhan salah satu ekonomi terbesar di Eropa.
Perkembangan tersebut juga menandai perubahan besar dalam peta energi global. Pada 2025, tenaga surya menjadi sumber listrik baru terbesar di dunia dan memenuhi sekitar 75% pertumbuhan permintaan listrik global. Energi surya bahkan mencatat pertumbuhan absolut terbesar selama empat tahun berturut-turut dibandingkan sumber listrik lainnya.
Jika sebelumnya banyak pihak memandang energi surya hanya sebagai teknologi pelengkap, kini tenaga surya berubah menjadi motor utama pertumbuhan pasokan listrik dunia.
Dominasi China tidak hanya terjadi pada pemasangan panel surya. Negara itu juga menguasai rantai pasok dan kapasitas manufaktur industri surya global. Produksi dalam skala besar membuat biaya teknologi semakin murah dan mempercepat adopsi energi terbarukan di berbagai negara.
Namun, dominasi tersebut juga memunculkan tantangan baru. Semakin besar peran China dalam transisi energi global, semakin besar pula pengaruh kebijakan industri, perdagangan, dan kapasitas produksinya terhadap arah masa depan energi dunia. Yang dipertaruhkan bukan sekadar panel surya, melainkan keseluruhan ekosistem energi bersih global.
Tahun 2025 juga menghadirkan fenomena yang tidak biasa. Ember mencatat pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil justru mengalami penurunan meskipun permintaan listrik dunia terus meningkat.
Biasanya kondisi seperti itu muncul saat ekonomi mengalami perlambatan atau resesi. Namun kali ini, penurunan terbesar berasal dari China yang memangkas pembangkit fosil sebesar 56 TWh dan India sebesar 52 TWh berkat ekspansi energi bersih yang berlangsung sangat cepat.
Bagi pendukung transisi energi, perkembangan tersebut menjadi salah satu tonggak paling penting dalam beberapa tahun terakhir.
Dunia kini memasuki babak baru. Energi surya memang tumbuh jauh lebih cepat dari perkiraan banyak pihak. Akan tetapi, pertumbuhan itu semakin terkonsentrasi pada satu negara.
Pada 2025, China tidak hanya memimpin transisi energi global. Dalam banyak hal, China telah menjelma menjadi mesin utama yang menggerakkan masa depan energi bersih dunia.
