Film Operasi Pesta Copet Sapa Warga Bandung

Operasi Pesta Copet menyapa warga Bandung lewat rangkaian Geng Copet Keliling. Film debut Edy Khemod ini tayang di bioskop sejak 27 Agustus 2026.

Aug 29, 2026 18:50 · 1 bulan lalu
Film Operasi Pesta Copet Sapa Warga Bandung
Film Operasi Pesta Copet Sapa Warga Bandung

INFOBAIK I BANDUNG – Kota Bandung menjadi salah satu tempat istimewa bagi Edy Khemod untuk memperkenalkan karya layar lebarnya kepada penonton. 

Musisi asal Bandung yang selama ini dikenal sebagai personel Seringai tersebut membawakan film debut penyutradaraannya, Operasi Pesta Copet, dalam rangkaian Geng Copet Keliling yang menyapa warga Kota Bandung, Sabtu (29/8/2026).

Kehadiran Edy Khemod bersama jajaran pemain menjadi kesempatan bagi penonton Bandung untuk melihat lebih dekat film yang telah melewati proses produksi selama sekitar tiga tahun tersebut. Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, Kawai Labiba, Fauzan Lubis, serta produser Dipa Andika turut hadir dalam rangkaian kegiatan di Bandung.

Operasi Pesta Copet telah tayang di seluruh bioskop Indonesia sejak 27 Agustus 2026. Film produksi Imajinari bersama Angin Segar dan Boss Creator itu mengangkat kisah empat sahabat yang terlibat dalam aksi pencopetan di tengah festival musik.

Meski pencopetan menjadi premis utama, cerita film tidak hanya fokus pada aksi para pelaku. Edy Khemod mengusung permasalahan persahabatan, ketimpangan ekonomi, serta keresahan terhadap fenomena pencopetan yang sering terjadi di tengah keramaian konser.

Bagi Khemod, durasi panjang industri musik mempengaruhi cara film tersebut dibangun. Selain menjadi personel Seringai, ia juga dikenal sebagai direktur pertunjukan dan kreatif untuk berbagai pertunjukan musik.

Pengalaman tersebut kemudian membawa pada gagasan mengenai aksi pencopetan di sebuah festival musik. Ide itu selanjutnya dibawa ke Imajinari hingga berkembang menjadi film layar lebar.

Salah satu bagian paling menarik dari Operasi Pesta Copet adalah keputusan tim produksi melakukan pengambilan gambar langsung di tengah keramaian festival musik Pestapora.

Proses tersebut bukanlah hal yang mudah. Kamera harus merekam situasi festival yang berlangsung secara nyata, sementara sejumlah adegan tidak memungkinkan untuk diulang jika terjadi kesalahan.

Produser Dipa Andika mengatakan, persiapan untuk melakukan pengambilan gambar di Pestapora bahkan telah dimulai sejak Pestapora 2024. Tim terlebih dahulu melakukan pemetaan panggung untuk menentukan lokasi yang memungkinkan digunakan dalam adegan film.

"Syutingnya saat Pestapora 2025, tapi kami sudah melakukan persiapan sejak Pestapora 2024. Kami melihat panggung mana yang memungkinkan untuk menjadi bagian dari set syuting. Jadi menurut kami syuting di Pestapora adalah yang tersulit, karena itu adalah adegan yang tidak bisa diulang," ungkap Dipa Andika di Bandung, Sabtu (29/8/2026).

Khemod mengatakan, salah satu tantangan terbesar terdapat pada adegan terakhir ketika karakter dalam film harus naik ke atas panggung. Waktu pengambilan gambar yang tersedia sangat terbatas sehingga seluruh waktu harus bekerja dengan presisi.

“Salah satu yang paling sulit dan menjadi tantangan adalah adegan terakhir di film ini, saat naik ke panggung, dengan waktu syuting yang pendek,” ujar Khemod.

Adegan latihan para anggota geng copet sebelum menjalankan aksinya di Pestapora juga membutuhkan persiapan khusus. Salah satunya adalah adegan Wall of Death yang melibatkan sekitar 500 orang.

“Jadi kami membuat adegan wall of death, dan itu harus diulang berkali-kali, dengan 500 orang yang terlibat,” kata Khemod.

Selain mengangkat fenomena pencopetan di konser, Khemod juga melihat film tersebut sebagai dokumentasi kecil mengenai perubahan zaman dalam ekosistem musik Indonesia.

Menurut dia, jika era 2000-an banyak ditandai dengan semangat Do It Yourself (DIY) dan musisi independen, kondisi saat ini memiliki penanda yang berbeda. Festival dan berbagai format pertunjukan musik baru saja berkembang menjadi bagian penting dari kehidupan musik generasi sekarang.

“Menurut saya sekarang penandanya bukan independensi-nya, tapi formatnya, festivalnya, event-nya.Betapa festival musik saat ini banyak sekali, dengan berbagai formatnya,” papar Khemod.

Pestapora dipilih menjadi bagian dari film karena dinilai mampu merepresentasikan fenomena tersebut. Festival musik tidak hanya menjadi latar belakang cerita, tetapi juga menjadi bagian dari gambaran mengenai generasi musik saat ini.

Bagi warga Bandung yang ingin menyaksikan film sekaligus bertemu langsung dengan para pemain, Operasi Pesta Copet dapat ditonton di sejumlah bioskop Sabtu mulai (29/8/2026). Di CGV BEC Mall, film tersebut dijadwalkan tayang pukul 13.50, 16.10, 18.30, dan 20.50 WIB. Sementara di Empire XXI tersedia jadwal pukul 20.50 WIB dan Istana Plaza Cinepolis pukul 21.15 WIB.

menjadi kota kesembilan dalam rangkaian Geng Copet Keliling yang berlangsung pada 22–31 Agustus 2026. Sebelumnya, rombongan tersebut telah menyambangi Malang, Surabaya, Sidoarjo, Solo, Yogyakarta, Semarang, Purwokerto, dan Cirebon.

Setelah Bandung, rangkaian tersebut berlanjut ke Bekasi pada 30 Agustus dan berakhir di Bogor pada 31 Agustus 2026.

Kehadiran Operasi Pesta Copet di Bandung sekaligus menjadi momentum bagi Edy Khemod untuk membawakan karya pertamanya sebagai sutradara ke kota yang memiliki kedekatan dengan perjalanan musiknya.

Dari panggung musik ke layar lebar, Khemod kini mengajak penonton melihat festival musik dari sudut pandang yang berbeda melalui kisah empat sahabat dan aksi pencopetan yang mereka jalankan.