Jawa Barat Jadi Motor Pasar Modal RI: Investor Tembus 3,5 Juta SID, Tumbuh 22% per Tahun
Jawa Barat kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu kekuatan utama pasar modal Indonesia.
INFOBAIK I BANDUNG, – Jawa Barat kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu kekuatan utama pasar modal Indonesia. Data terbaru mencatat, hingga 11 November 2025, jumlah investor pasar modal di Jawa Barat mencapai 3.516.735 Single Investor Identification (SID). Angka tersebut setara dengan 19 persen dari total investor nasional yang kini berjumlah 19.363.000 SID.
“Porsinya 19 persen, kontribusi sekitar Jawa Barat ke nasional cukup signifikan,” ujar Kepala Kantor Perwakilan BEI Jawa Barat, Achmad Dirgantara, di Kota Bandung, Kamis (13/11/2025).
Pertumbuhan investor di Jawa Barat menunjukkan tren yang sangat kuat. Pada tahun 2021, jumlah investor baru berada di angka 1.583.194 SID. Angka itu terus menanjak hingga mencapai 2.927.760 SID pada tahun 2024, sebelum akhirnya melesat menjadi 3.516.735 SID pada tahun 2025, atau bertambah 588.975 SID hanya dalam setahun.
Secara rata-rata, investor di Jawa Barat tumbuh 22,79 persen setiap tahun, menjadikannya salah satu provinsi dengan pertumbuhan investor tercepat di Indonesia.
Dari total investor tersebut, 1.639.315 SID adalah investor saham, sementara berinvestasi pada reksadana, obligasi, sukuk, hingga instrumen pasar modal lainnya.
Salah satu kekuatan utama di balik gerakan ini adalah dominasi anak muda. Data BEI mencatat 54,12 persen investor berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun. Ketika digabung dengan rentang usia 30–40 tahun, totalnya mencapai 70 persen investor Jawa Barat.
“Anak-anak muda—Gen Z—menjadi lokomotif investor. Mereka punya rasa ingin tahu tinggi dan sangat dekat dengan teknologi digital,” ungkap Achmad.
Dari sisi pendidikan, 44,5 persen investor merupakan pelajar SMA, sementara berdasarkan pekerjaan, 40 persen di antaranya adalah karyawan. Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar literasi modal kini semakin meluas, tak lagi terbatas pada kalangan profesional atau penumpukan tinggi.
Achmad menjelaskan bahwa pertumbuhan investor muda didorong oleh beberapa faktor, di antaranya;kemudahan online trading, masifnya literasi melalui galeri investasi yang tersebar di kampus-kampus, dukungan infrastruktur digital, serta derasnya konten edukasi pasar modal yang disebarkan melalui influencer.
Namun ia mengingatkan, tidak semua influencer yang berbicara soal saham memberikan edukasi yang tepat. “OJK sedang menertibkan influencer yang tidak memiliki izin atau kompetensi, karena ada juga pihak yang menggiring pasar secara tidak bertanggung jawab,” tegasnya.
Pertumbuhan pasar modal investor tidak hanya berdampak pada meningkatnya transaksi, tetapi juga memperluas peluang pendanaan bagi perusahaan yang ingin berkembang melalui bursa.
“Semakin banyak investor, semakin banyak juga perusahaan yang bisa mendapatkan pendanaan dari masyarakat. Ini akan menggerakkan perekonomian dan diharapkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Achmad.
BEI Jawa Barat pun terus mendorong peningkatan jumlah investor sekaligus memperbanyak perusahaan yang melakukan pencatatan saham (listing) di pasar modal.
Dengan kontribusi hampir seperlima investor nasional, Jawa Barat kini semakin menguat sebagai motor pertumbuhan pasar modal Indonesia, sekaligus memberi sinyal positif terhadap posisi perkembangan ekonomi digital dan inklusif di masa depan.
