Kursus Unik di China Ini Bikin Anak Tobat Main Game
Bayangkan ada kursus yang bukannya melarang game, tapi justru menyuruh anak main game sampai puas. Itulah metode aneh tapi nyata dari klub esports di China yang lagi viral.
INFOBAIK I BEIJING, - Bayangkan ada kursus yang bukannya melarang game, tapi malah menyuruh anak main game sampai puas. Itulah metode aneh tapi nyata dari klub esports di China yang lagi viral.
Dalam sehari, peserta harus main belasan jam non-stop. Hasilnya? Banyak yang kapok, bahkan ada yang nangis di hari kedua. Biayanya mahal, tapi orang tua rela karena yakin anak mereka bisa lepas dari kecanduan. Netizen pun menyebut “kursus paling gokil di dunia”.
Dengan biaya hingga 10.000 yuan atau sekitar Rp22 juta untuk program 22 hari, kursus ini diklaim bisa membuat permainan utama anak-anak kapuk.
Klub ini dimiliki oleh Su Chenhao, seorang pengusaha asal Hebei, China utara. Awalnya, ia membuka klub esports pada tahun 2018 untuk melatih calon pemain profesional. Namun, seiring waktu ia sadar, menemukan pemain berbakat itu ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, dilansir dari SCMP.
“Banyak anak berpikir bisa jadi pro player, padahal kebanyakan hanya lari dari belajar dan masalah hidup lewat game,” kata Su.
Oleh karena itu pada tahun 2023, Su mengubah arah bisnisnya. Ia meluncurkan program khusus untuk membantu anak-anak keluar dari permainan kecanduan. Biayanya bervariasi: kursus seminggu dipatok beberapa ribu yuan, sementara paket lengkap 22 hari bisa mencapai 10.000 yuan. Tarifnya juga tergantung tingkat kecanduan dan keinginan orang tua.
Menariknya, metode yang justru dipakai membuat anak-anak memaksakan permainan utama terus-menerus. Dalam sehari, mereka harus bermain dari jam 9 pagi sampai tengah malam, hanya berhenti sebentar untuk makan siang dan jogging.
"Salah satu anak, Xiao Dan, awalnya bercita-cita jadi pro player, tapi hari pertama saja sudah kram otot. Anak lain bahkan nangis minta pulang di hari kedua," cerita Su.
Selama tujuh tahun, klub ini sudah melatih hampir 4.000 anak, dan menurut Su lebih dari 85 persen di antaranya memang kecanduan game online.
“Suasana tekanan tinggi ini bikin main game jadi lebih melelahkan daripada belajar,” jelas Su, soal alasan mengapa kursus ini bisa ampuh bikin anak kapok.
Fenomena ini muncul di tengah popularitas esports di China. Menurut laporan China Esports Industry Development Report 2024, terdapat 490 juta pengguna esports di negara itu atau setara 35 persen dari populasi. Bahkan sejak tahun 2003, esports sudah diakui sebagai olahraga resmi di sana.
Tak sedikit pemain profesional asal China yang mendunia. Profesi ini juga dipandang lebih serius oleh banyak orang tua, karena menggiurkan pendapatannya. Data Sina Sports menyebut rata-rata pemain pro bisa menghasilkan 20.000 yuan atau sekitar Rp44 juta per bulan, sementara pemain top bisa mengantongi 1 juta yuan atau sekitar Rp2,2 miliar per bulan. Belum termasuk kontrak iklan bernilai fantastis bagi pemain legendaris kelas dunia.
Klub milik Su ternyata bukan satu-satunya yang menjalankan program "rehab" ini. Sebuah klub esports lain di Sichuan juga telah menerima 700 anak dalam delapan tahun terakhir, tapi hanya tiga yang benar-benar berhasil menjadi pemain profesional.
"Peluangnya kecil sekali, cuma 1 band 120.000. Jadi salah satu fungsi kelas kami ya bikin anak-anak sadar kalau tidak semua bisa jadi pro player," ungkap Hou Xu, pemilik klub tersebut.
Di media sosial, program ini memicu pro-kontra. Ada yang menilai langkah Su cerdas karena bisa membantu anak keluar dari Kecanduan sekaligus jadi bisnis.
"Ini win-win. Klub dapat uang, anak-anak tidak kecanduan game lagi," tulis salah satu warganet.
