LIMINAL dan ANTI-OBJECT ARCHITECTURE Karya Budi Pradono Hadir di Summarecon Bandung
Summarecon Bandung menghadirkan LIMINAL karya arsitek Budi Pradono di Dia.Lo.Gue dotHub, memperkuat ekosistem seni, budaya, kreativitas, dan lifestyle di Bandung Timur.
INFOBAIK I BANDUNG,- Summarecon Bandung terus memperkuat ekosistem kreatif dan lifestyle dengan mendukung hadirnya LIMINAL, ruang antara, karya arsitek eksperimental Indonesia Budi Pradono.
Berlokasi di Dia.Lo.Gue dotHub, Summarecon Bandung, LIMINAL merupakan karya arsitektur yang mengajak masyarakat mengalami ruang bukan sekadar sebagai bangunan, tetapi sebagai perjalanan yang melibatkan ruang, cahaya, material, lanskap, dan keheningan.
BACA JUGA:Summarecon Bandung Raih 100 Miliar Lebih Dalam Satu Hari Penjualan Cluster Ivora
LIMINAL, ruang antara secara resmi diperkenalkan kepada publik bersamaan dengan pembukaan pameran Budi Pradono: ANTI-OBJECT ARCHITECTURE pada hari Sabtu, 12 September 2026 di Circular Plaza, Dia.Lo.Gue @ DotHub Bandung, Summarecon Bandung. Rangkaian acara mencakup pengantar dan diskusi, tur pameran bersama Budi Pradono, peresmian dan tur LIMINAL, serta pertunjukan “Tembang Puitik – Siklus Chairil Anwar” oleh Steff Pamungkas dan Yohanes Siem.
Mengusung gagasan arsitektur sebagai ruang untuk berhenti sejenak, berefleksi, dan membayangkan kemungkinan baru, LIMINAL memanfaatkan bambu petung lokal sebagai material sekaligus struktur utama bangunan. Tiga bukaan berbentuk corong membawa cahaya alami menuju ruang yang berada di bawah permukaan tanah, menciptakan pengalaman ruang yang terus berubah mengikuti perjalanan dan waktu.
Executive Director Summarecon Bandung, Hindarko Hasan, mengatakan bahwa kehadiran LIMINAL menjadi bagian dari upaya Summarecon Bandung dalam menghadirkan ruang yang dapat memperkaya pengalaman masyarakat sekaligus memperkuat karakter kawasan.
“Summarecon Bandung dikembangkan tidak hanya sebagai kawasan hunian dan komersial, tetapi juga sebagai ekosistem yang dapat mewadahi berbagai aktivitas masyarakat, termasuk seni, budaya, dan kreativitas. Kehadiran LIMINAL di Dia.Lo.Gue dotHub menjadi salah satu bentuk kolaborasi yang memperkaya pengalaman kawasan sekaligus membuka ruang baru bagi masyarakat untuk berinteraksi dan mengapresiasi karya arsitektur.”jelas Hindarko di Bandung, Sabtu (12/9/2026)
LIMINAL selanjutnya berkembang menjadi ruang publik di DotHub Bandung yang akan dikelola oleh Dia.Lo.Gue Bandung, dengan program yang bergerak dalam tiga bidang utama, yaitu BUNYI untuk musik dan pertunjukan, KATA untuk literasi dan pemikiran, serta RUPA untuk seni visual dan desain. Ketiganya dirancang sebagai ruang perjumpaan antara gagasan, karya, pelaku seni dan budaya, serta publik.
Kehadiran LIMINAL melengkapi peran Dia.Lo.Gue dotHub sebagai ruang kreatif interdisipliner di Summarecon Bandung yang mempertemukan seni, arsitektur, desain, dan komunitas. Melalui pameran, pertunjukan, diskusi, dan workshop, ruang ini membuka kesempatan bagi publik untuk berdialog, bereksperimen, serta membangun kolaborasi di bidang kreatif.
Budi Pradono: Arsitektur sebagai Pengalaman
LIMINAL merupakan bagian dari pendekatan ANTI-OBJECT ARCHITECTURE yang dikembangkan Budi Pradono, yang memandang arsitektur bukan sebagai objek yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari hubungan antara manusia, lingkungan, material, dan konteks tempat. Pendekatan ini membuka ruang bagi interaksi, pengalaman, dan hubungan yang lebih dekat dengan lingkungan sekitar.
Gagasan pameran ini menjadi salah satu landasan penting dalam praktiknya: bagaimana arsitektur dapat hadir tanpa menjadi objek yang dominan, melainkan membuka ruang bagi interaksi, pengalaman, dan hubungan dengan lingkungan di sekitarnya.
Budi Pradono, Arsitek LIMINAL, mengatakan, LIMINAL lahir dari pemikiran bahwa arsitektur tidak harus selalu hadir sebagai monumen yang besar, tinggi, atau dominan, tetapi perlu memiliki sensitivitas terhadap lingkungan dan konteks di sekitarnya serta memberikan dampak positif bagi masyarakat. Liminal menjadi sebuah perjalanan refleksif melalui penciptaan karya arsitektur berupa mute space atau ruang hening yang terkubur tanpa monumen—guna mengajak kita merenung, menghayati dunia, dan mengintrospeksi diri.
Melalui pameran ANTI-OBJECT ARCHITECTURE, publik juga diajak mengikuti perjalanan pemikiran dan karya Budi Pradono, sekaligus melihat bagaimana pendekatan arsitektur yang eksperimental, kontekstual, dan berkelanjutan dapat diterapkan dalam karya-karyanya.
Kehadiran LIMINAL dan Dia.Lo.Gue dotHub menjadi bagian dari perkembangan Summarecon Bandung sebagai Kota Terpadu yang terus menghadirkan beragam fasilitas dan aktivitas. Dengan memadukan hunian, komersial, lifestyle, serta ruang kreatif, Summarecon Bandung terus mendorong terciptanya lingkungan yang dinamis dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Pengembangan kawasan komersial kini tidak hanya bertumpu pada aktivitas perdagangan, tetapi juga mulai mengintegrasikan ruang seni, budaya, dan kreativitas sebagai bagian dari ekosistem kota.
Pendekatan tersebut terlihat dalam pengembangan ruang kreatif di kawasan Sumarecon Bandung yang diarahkan menjadi wadah bagi seniman, desainer, komunitas, dan masyarakat.
Kehadiran ruang tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ekosistem kreatif baru di Bandung Timur. Kawasan ini dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang karena selama ini aktivitas seni dan budaya di Bandung lebih banyak terkonsentrasi di kawasan Bandung Utara dan pusat kota.
Arsitek sekaligus penggagas ruang kreatif tersebut, Budi Pradono menilai keberadaan ruang seni tidak seharusnya berhenti pada fungsi sebagai galeri atau tempat memamerkan karya. Ruang kreatif perlu dirancang sebagai tempat bertemunya berbagai gagasan dan komunitas.
Menurutnya, kreativitas memiliki peran penting dalam menghidupkan sebuah kawasan. Kota-kota seperti London dan Milan menunjukkan bagaimana kreativitas dapat menjadi salah satu penggerak aktivitas perkotaan sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru.
“Dengan kreativitas, itu memacu adrenalin untuk menghidupkan kota. Kota-kota yang mati bisa hidup kembali karena kreativitas. Kreativitas itu generator pada ekonomi,” ujarnya.
Pendekatan tersebut juga menjadi alasan pemilihan Bandung Timur sebagai lokasi pengembangan ruang kreatif. Kehadiran ruang baru di kawasan tersebut dinilai menawarkan tantangan sekaligus peluang untuk membentuk pusat aktivitas seni dan kreativitas yang tidak terpusat di wilayah Bandung Utara.
“Justru memberi sesuatu tempat yang baru yang mungkin belum ada di daerah Bandung Timur. Buat saya itu justru lebih challenging,” katanya.
Tidak Sekadar Mengikuti Konsep Ruang Seni di Jakarta
Pengembangan ruang kreatif di Bandung Timur juga ditegaskan bukan sekadar meniru konsep ruang seni yang sebelumnya telah hadir di Jakarta. Setiap ruang dinilai harus memiliki pendekatan sesuai karakter kawasan dan masyarakat yang dilayaninya.
Ruang kreatif tersebut diharapkan menjadi tempat masyarakat bertemu, berdiskusi, menikmati pertunjukan, menampilkan karya, hingga membangun kolaborasi baru.
Konsep itu semakin relevan di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) yang membuat interaksi manusia semakin banyak berlangsung secara virtual.
Karena itu, ruang fisik yang memungkinkan masyarakat berinteraksi secara langsung dinilai tetap memiliki nilai penting.
“Di dunia yang penuh dengan sekarang ini dengan AI, dengan digital, dengan virtual, kita benar-benar merasakan sendiri. Kapan sih kita lepas dari handphone? Ternyata kita lepas dari handphone, kita nikmat banget,” ujar Executive Director Summarecon Bandung, Hindarko Hasan
Dari sisi pengelola kawasan, pengembangan ruang kreatif tersebut sejalan dengan karakter Bandung yang dikenal sebagai salah satu kota dengan ekosistem seni dan kreativitas yang kuat.
Pihak Sumarecon Bandung melihat kawasan yang dikembangkan tidak cukup hanya menyediakan fasilitas komersial. Ruang untuk kreativitas masyarakat juga diperlukan agar kawasan dapat memiliki fungsi sosial dan budaya yang lebih luas.
“Sumarecon Bandung memang ingin mengelola, menciptakan ruang untuk kreativitas, terutama kreativitas masyarakat Bandung dan sekitarnya dan lebih luas lagi,” ujarnya
Menurutnya, kolaborasi dengan pelaku seni dan kreatif menjadi bagian dari upaya tersebut. Sejumlah kegiatan yang sebelumnya digelar juga telah melibatkan seniman dan komunitas asal Bandung.
Kehadiran ruang tersebut diharapkan membuka kesempatan lebih luas bagi seniman Bandung untuk menampilkan karya sekaligus mempertemukan mereka dengan komunitas dari luar daerah.
Dengan dukungan akses kawasan dan infrastruktur perkotaan, ruang kreatif tersebut berpotensi menjadi titik temu antara masyarakat lokal, pelaku industri kreatif, komunitas, hingga pengunjung dari luar Bandung.
Arsitektur Tak Lagi Mengejar Monumen
Di sisi lain, konsep ruang tersebut juga membawa gagasan arsitektur yang tidak semata-mata mengejar bentuk bangunan sebagai objek.
Arsitek yang terlibat menilai arsitektur harus memiliki sensitivitas terhadap lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Karena itu, pembangunan tidak seharusnya hanya mengejar bangunan yang tinggi, besar, atau mewah.
“Kalau arsitek berkarya, itu tidak untuk dirinya sendiri, tapi untuk orang lain,” ujarnya.
Pandangan tersebut kemudian diterjemahkan melalui konsep ruang yang lebih terbuka dan memberikan pengalaman kepada penggunanya.
Menurutnya, perkembangan arsitektur sejak modernisme, postmodernisme hingga deconstruction architecture banyak menghasilkan bangunan yang berfungsi sebagai monumen. Namun, pendekatan tersebut tidak selalu menjadi kebutuhan masyarakat saat ini.
Ia justru memilih menghadirkan ruang yang memungkinkan manusia berhenti sejenak, merenung, dan mengalami lingkungan di sekitarnya.
Gagasan tersebut juga terlihat dari penyediaan ruang untuk meditasi atau refleksi yang dapat digunakan masyarakat dengan latar belakang dan cara berdoa masing-masing.
“Yang kurang adalah tempat meditasi. Gereja atau masjid yang umum, yang universal, supaya bisa berdoa pakai caranya masing-masing,” katanya.
Kreativitas sebagai Investasi Sosial dan Ekonomi
Pengembangan ruang kreatif di Bandung Timur pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan seni dan desain. Ruang tersebut dapat menjadi bagian dari investasi sosial yang berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi baru.
Ketika seniman, komunitas, pelaku usaha kreatif, desainer, musisi, dan masyarakat bertemu dalam satu ekosistem, peluang kolaborasi dan aktivitas ekonomi ikut terbuka.
Konsep tersebut menempatkan kreativitas bukan sekadar aktivitas pendukung kawasan, tetapi sebagai salah satu elemen yang dapat menghidupkan kawasan dan menciptakan nilai baru.
Dengan demikian, kehadiran ruang kreatif di Sumarecon Bandung diharapkan tidak hanya menjadi destinasi untuk menikmati karya seni, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi komunitas dan gagasan baru yang memperkuat posisi Bandung sebagai kota kreatif.
