OJK Jabar Gaspol Perkuat Sektor Riil Agribisnis, Dorong Ekonomi Daerah Tumbuh dan Tahan Krisis
OJK Jawa Barat memperkuat sektor riil agribisnis untuk mendorong ekonomi daerah yang inklusif dan tahan krisis, didukung edukasi keuangan, perlindungan konsumen, serta akses pembiayaan produktif.
INFOBAIK I BANDUNG,– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat semakin agresif memperkuat sektor riil, khususnya agribisnis, sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Langkah strategis ini menjadi bagian dari komitmen OJK Jabar dalam mendorong literasi keuangan, memperkuat perlindungan konsumen, sekaligus mempercepat pengembangan ekonomi daerah sepanjang Triwulan I 2026.
Kepala OJK Provinsi Jawa Barat, Darwisman, menegaskan bahwa penguatan sektor agribisnis bukan sekedar program ekonomi, melainkan strategi besar untuk menciptakan ketahanan ekonomi daerah di tengah dinamika global.
“Pengembangan ekonomi daerah berbasis agribisnis adalah mesin katalisator pertumbuhan Jawa Barat. Kami ingin memastikan potensi lokal benar-benar menjadi kekuatan ekonomi yang inklusif dan berdaya tahan,” ujar Darwisman dalam media update Triwulan I 2026 di Bandung, Rabu (1/4/2026)
Fokus pertanian sektor riil ini diarahkan pada berbagai komoditas unggulan Jawa Barat, mulai dari peternakan hingga perkebunan seperti domba, sapi perah, ayam petelur, ikan air tawar, pisang cavendish, nanas, kopi, hingga kakao.
Melalui strategi percepatan agribisnis, OJK bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) mendorong peningkatan akses pembiayaan produktif bagi pelaku usaha, meningkatkan penyerapan energi kerja di pedesaan, serta memperkuat ketahanan pangan.
Tak hanya itu, hilirisasi juga menjadi kunci agar nilai tambah ekonomi tidak keluar dari daerah, melainkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Di sisi lain, OJK Jawa Barat juga tetap mengedepankan penguatan literasi keuangan. Hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 640 kegiatan edukasi telah digelar dengan menjangkau 1,27 juta peserta melalui berbagai metode, baik tatap muka maupun digital.
“Kami berkomitmen agar masyarakat semakin cerdas dan terlindungi dalam memanfaatkan produk dan layanan keuangan,” kata Darwisman.
Dalam hal perlindungan konsumen, OJK Jabar mencatat telah menerima 67 laporan pengaduan sepanjang Januari 2026. Permasalahan yang paling banyak dilaporkan meliputi restrukturisasi kredit, agunan, keberatan lelang, hingga kasus penipuan eksternal.
Untuk itu, OJK bersama Satgas PASTI Daerah terus menggencarkan langkah preventif dan represif terhadap aktivitas keuangan ilegal seperti investasi bodong dan pinjaman online ilegal yang merugikan masyarakat.
“Perlindungan konsumen adalah prioritas utama agar masyarakat merasa aman dalam bertransaksi di sektor jasa keuangan,” tegasnya.
Berbagai program unggulan pun terus diperkuat, seperti Asuransi Mikro untuk Petani, program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR), hingga GEULIS Jabar yang mendorong inklusi pasar modal di kalangan masyarakat. Dengan orkestrasi kebijakan yang terintegrasi antara edukasi, perlindungan, dan penguatan sektor riil, OJK Jawa Barat optimis mampu menciptakan fondasi ekonomi daerah yang lebih kuat, inklusif, dan siap menghadapi tantangan global ke depan.
