Startup Hijau Siap Guncang Dunia! SIC Asia 2025 Resmi Dimulai dari ITB ke Panggung Internasional

Program ini adalah hasil kolaborasi antara School of Business and Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) dan University of Applied Sciences and Arts Northwestern Switzerland School of Business (FHNW), yang telah berlangsung sejak 2016 dan kini memasuki tahun kedelapan penyelenggaraannya.

Jun 29, 2025 10:37 · 1 tahun lalu
Startup Hijau Siap Guncang Dunia! SIC Asia 2025 Resmi Dimulai dari ITB ke Panggung Internasional
Startup Hijau Siap Guncang Dunia! SIC Asia 2025 Resmi Dimulai dari ITB ke Panggung Internasional

INFOBAIK I BANDUNG,- Swiss Innovation Challenge (SIC) Asia 2025 resmi dimulai melalui Kick-Off Seminar bertema “Green is the New Disruptor: Startups Leading Sustainable Change”. Bertempat di Auditorium Lantai 2 SBM ITB dan disiarkan secara daring, kegiatan ini membuka babak baru bagi para inovator muda yang ingin mengubah dunia lewat ide-ide berkelanjutan.

Diselenggarakan melalui kolaborasi antara School of Business and Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) dan FHNW School of Business, Swiss, SIC Asia telah memasuki tahun kedelapan penyelenggaraannya sejak dimulai pada 2016. Tahun ini, program kembali menegaskan perannya sebagai inkubator ide perubahan yang tidak hanya berbasis profit, tapi juga berlandaskan nilai sosial dan lingkungan.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Aurik Gustomo mengingatkan pentingnya membangun bisnis yang tidak semata-mata mengejar keuntungan ekonomi. “Kita tidak boleh hanya berpikir dalam kerangka nilai ekonomi, tetapi juga harus mempertimbangkan nilai sosial dan lingkungan, yaitu manusia dan bumi,” ujarnya.

Prawira Fajarindra Belgiawan, Ph.D., selaku National Project Officer SIC Asia 2025, memaparkan bahwa kompetisi ini terdiri dari tiga tahap utama: penyusunan ide inovatif, pengembangan rencana bisnis, dan strategi implementasi. Pemenang akan meraih total hadiah hingga Rp50 juta serta kesempatan mempresentasikan inovasi mereka di panggung internasional di Swiss.

“Ini bukan sekadar perlombaan, melainkan wadah untuk mengubah ide menjadi aksi dan memberi dampak nyata,” tegasnya.

Dari Swiss, Prof. Dr. Mahmoud Al-Kilani yang tergabung dalam International Steering Committee, turut memberikan sambutan secara daring. Ia menekankan bahwa setiap peserta yang mencapai tahap akhir pantas disebut pemenang karena telah membuktikan kualitas dan keberanian berpikir besar.

“Berani, kreatif, dan yang terpenting nikmati setiap prosesnya,” pesannya kepada seluruh peserta.

Seminar pembuka semakin kuat dengan paparan inspiratif dari Melia Famiola Hariadi, Ph.D., dosen SBM ITB, yang mengajak peserta untuk melihat krisis sebagai peluang. Ia mengangkat cerita pribadi yang menggambarkan bagaimana konsumsi energi mendorongnya merenungi kembali makna “kekayaan” sumber daya Indonesia.

Melia menunjukkan contoh nyata seperti Kaffeeform, startup asal Jerman yang mengolah ampas kopi menjadi cangkir guna pakai ulang, serta Blue Ventures, organisasi konservasi laut yang melibatkan masyarakat lokal di Madagaskar untuk mengembangkan model ekowisata berkelanjutan.

“Kunci keberhasilan bukan sekadar inovasi teknis, tetapi keterlibatan manusia di dalamnya,” ucap Melia.

Ia juga menyoroti peluang ekonomi dari transisi global menuju ekonomi rendah karbon—termasuk energi terbarukan, karbon kredit, hingga restorasi ekosistem seperti proyek lahan gambut di Kalimantan Tengah.

“Keberlanjutan bukan lagi soal mengurangi dampak buruk, tapi tentang menciptakan dampak yang lebih baik,” tutupnya.

Dengan semangat "green disruption", SIC Asia 2025 bukan hanya merangsang kompetisi ide, tetapi membuka ruang kolaboratif bagi startup, perusahaan, dan individu untuk mendorong perubahan nyata. Dunia membutuhkan solusi, dan program ini menjadi panggung bagi mereka yang berani membawa perubahan.