Suara dari Selatan Menggema di Bali, DCVMN Satukan Produsen Vaksin Demi Akses Kesehatan yang Berkeadilan

Dari Bali, DCVMN 2025 menyuarakan misi global: mengakhiri ketimpangan akses vaksin dan membangun ekosistem kesehatan dunia yang lebih adil melalui inovasi, kolaborasi, dan solidaritas negara berkembang.

Oct 27, 2025 18:39 · 11 bulan lalu
Suara dari Selatan Menggema di Bali, DCVMN Satukan Produsen Vaksin Demi Akses Kesehatan yang Berkeadilan
Suara dari Selatan Menggema di Bali, DCVMN Satukan Produsen Vaksin Demi Akses Kesehatan yang Berkeadilan

INFOBAIK I BANDUNG, -Apa jadinya jika sebuah negara harus menunggu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan vaksin, sementara warganya terus kehilangan orang-orang yang dicintai? Luka global akibat pandemi masih terasa. 

Ketimpangan akses vaksin pernah merenggut terlalu banyak nyawa—bukan karena teknologi belum ada, tetapi karena tidak semua negara memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkannya. Dari Bali, sebuah tekad besar kembali dinyalakan: memastikan tragedi serupa tidak pernah terulang.

Melalui penyelenggaraan 26th Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) Annual General Meeting pada 29–31 Oktober 2025, puluhan produsen vaksin dari Asia, Afrika, hingga Amerika Latin berkumpul dengan satu tekad yang sama: membangun masa depan kesehatan dunia yang lebih adil, mandiri, dan tangguh.

Pertemuan ini bukan sekadar forum teknis atau rangkaian pidato seremonial. Ini adalah ruang berbagi pengalaman pahit—tentang negara-negara yang sulit membeli vaksin, tentang pabrik di selatan dunia yang memiliki kemampuan namun terhambat regulasi, tentang anak-anak yang seharusnya bisa diselamatkan.

Tema besar yang diusung, “Advancing Innovation and Building a Resilient Vaccine Ecosystem for a Safer World,” lahir dari kenyataan bahwa inovasi tanpa akses adalah kesia-siaan. CEO DCVMN, Rajinder Suri, menegaskan bahwa kolaborasi global bukan lagi pilihan, tetapi keharusan moral.

“Advancing innovation and building resilient vaccine ecosystems is not an abstract ambition. It is a practical imperative!” Rajinder Suri

Sebagai co-host sekaligus negara produsen vaksin terbesar di Asia Tenggara, Bio Farma membawa misi penting dari Indonesia. Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, menegaskan bahwa negara berkembang tidak ingin lagi hanya menjadi pasar, tetapi menjadi bagian dari solusi global.

 “Melalui kolaborasi, pertukaran teknologi, dan peningkatan kapasitas, produsen vaksin dari Selatan mampu menjadi garda terdepan dalam menciptakan sistem kesehatan dunia yang berkeadilan,” ujarnya, Senin (27/10/2025) 

Selama tiga hari, para peserta akan membahas banyak hal yang akan menentukan masa depan layanan kesehatan dunia: pemanfaatan AI untuk riset vaksin, kesetaraan regulasi, mekanisme pembiayaan yang tidak memberatkan negara miskin, hingga langkah memperkuat kapasitas produksi di Afrika agar benua tersebut tak lagi bergantung pada negara lain.

Karena bagi jutaan bayi yang lahir setiap tahun di negara berpenghasilan rendah, vaksin bukan statistik, bukan angka ekonomi tetapi kesempatan untuk hidup.

Dari Bali, pesan itu kembali menggema ke seluruh dunia: kesehatan adalah hak, bukan privilese. Dan selama produsen vaksin dari negara berkembang masih bersuara, masih berinovasi, dan masih bersatu, harapan untuk dunia yang lebih aman akan selalu ada. Bukan hanya untuk negara kuat, tetapi untuk semua umat manusia—tanpa kecuali.