5 Pemimpin Dunia yang Berkuasa Tanpa Ijazah SMA, Ini Daftarnya
Sejumlah pemimpin dunia pernah berkuasa tanpa menyelesaikan pendidikan SMA. Siapa saja mereka dan bagaimana perjalanan kariernya hingga menjadi pemimpin negara?
INFOBAIK I BANDUNG ,– Sejumlah pemimpin dunia pernah menduduki jabatan tertinggi di negaranya meski tidak menempuh pendidikan formal hingga tingkat sekolah menengah atas (SMA). Latar belakang mereka beragam, mulai dari karier militer hingga perjuangan kemerdekaan.
Kisah tersebut kembali menjadi perhatian di tengah perbincangan mengenai persyaratan pendidikan pejabat publik di Indonesia, termasuk polemik dokumen pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Namun, perjalanan para pemimpin tersebut tidak bisa disamakan begitu saja. Sebagian besar tumbuh pada masa ketika akses pendidikan masih terbatas dan memilih jalur lain untuk membangun karier hingga mencapai puncak kekuasaan.
BACA JUGA:2.850 Botol Plastik Disulap Jadi Perahu Tank
Berikut lima pemimpin dunia yang tercatat tidak menyelesaikan pendidikan formal hingga jenjang SMA.
1. Idi Amin, Presiden Uganda 1971–1979
Idi Amin merupakan mantan pemimpin Uganda yang berkuasa setelah mengambil alih pemerintahan melalui kudeta militer pada 25 Januari 1971.
Sejumlah catatan biografi menyebut Amin hanya mengenyam pendidikan dasar dalam waktu singkat. Setelah meninggalkan bangku sekolah, dia bergabung dengan King's African Rifles, pasukan kolonial Inggris, pada 1946.
Karier militernya terus berkembang hingga dia menjadi salah satu tokoh penting dalam angkatan bersenjata Uganda. Pada 1971, Amin menggulingkan Presiden Milton Obote dan mengambil alih kekuasaan.
Amin memimpin Uganda hingga 1979. Pemerintahannya dikenal luas karena praktik represif dan pelanggaran hak asasi manusia yang menimbulkan banyak korban.
2. Mobutu Sese Seko, Presiden Zaire 1965–1997
Mobutu Sese Seko, yang memiliki nama lahir Joseph-Désiré Mobutu, merupakan pemimpin Zaire, negara yang kini dikenal sebagai Republik Demokratik Kongo.
Mobutu mulai meniti karier di lingkungan militer setelah meninggalkan pendidikan formalnya. Dia bergabung dengan tentara kolonial Belgia pada 1950, sebelum kemudian memasuki dunia politik.
Pada 1965, Mobutu mengambil alih kekuasaan dan memimpin negara tersebut selama lebih dari tiga dekade.
Selama pemerintahannya, Mobutu menerapkan sistem kekuasaan terpusat.
Rezimnya juga dikaitkan dengan korupsi dan pembatasan kebebasan politik.
Kekuasaan Mobutu berakhir pada 1997 setelah pasukan pemberontak berhasil menggulingkan pemerintahannya.
3. Jomo Kenyatta, Presiden Pertama Kenya 1964–1978
Jomo Kenyatta merupakan tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Kenya dari Inggris sekaligus presiden pertama negara tersebut.
Kenyatta menempuh pendidikan dasar di sekolah misi sebelum mempelajari keterampilan pertukangan. Dia tidak mengikuti jalur pendidikan menengah formal seperti yang dikenal saat ini.
Meski demikian, perjalanan belajarnya tidak berhenti setelah meninggalkan sekolah. Pada akhir 1920-an, Kenyatta pergi ke Inggris dan mengikuti sejumlah kegiatan pendidikan serta memperluas pengetahuannya.
Dia kemudian mempelajari persoalan sosial dan budaya masyarakat Kenya, termasuk melalui kegiatan akademik dan penelitian. Pemikirannya turut dikenal melalui buku Facing Mount Kenya.
Kenyatta menjadi perdana menteri Kenya pada 1963 dan menjabat sebagai presiden mulai 1964 hingga meninggal dunia pada 1978.
Perjalanannya menunjukkan bahwa keterbatasan pendidikan formal pada masa muda tidak selalu menghentikan seseorang untuk terus belajar dan mengembangkan pengetahuan.
4. Gnassingbé Eyadéma, Presiden Togo 1967–2005
Gnassingbé Eyadéma memimpin Togo selama hampir 38 tahun, dari 1967 hingga meninggal dunia pada 2005.
Lahir dari keluarga petani di wilayah utara Togo, Eyadéma dilaporkan hanya memperoleh pendidikan formal yang terbatas. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, dia bergabung dengan militer Prancis.
Pengalaman militernya mencakup penugasan dalam konflik di Indochina dan Aljazair. Setelah kembali ke Togo, Eyadéma membangun pengaruh di lingkungan militer.
Pada 1967, dia mengambil alih pemerintahan dan menjadi presiden. Selama masa kekuasaannya, Eyadéma mempertahankan dominasi politik yang berlangsung selama puluhan tahun.
Kepemimpinannya menuai kritik terkait demokrasi dan hak asasi manusia. Setelah kematiannya pada 2005, kekuasaan kemudian beralih kepada putranya, Faure Gnassingbé.
5. Francisco Macías Nguema, Presiden Guinea Khatulistiwa 1968–1979
Francisco Macías Nguema merupakan presiden pertama Guinea Khatulistiwa setelah negara tersebut memperoleh kemerdekaan dari Spanyol pada 1968.
Riwayat biografinya menggambarkan pendidikan formal Macías yang terbatas, dengan latar belakang pendidikan sekolah dasar. Sebelum memasuki dunia politik, dia bekerja dalam administrasi pemerintahan kolonial Spanyol.
Setelah terpilih sebagai presiden pada 1968, Macías secara bertahap mengonsolidasikan kekuasaannya. Pada 1972, dia mendeklarasikan diri sebagai presiden seumur hidup.
Pemerintahannya kemudian dikenal sangat represif. Berbagai catatan sejarah dan laporan internasional mendokumentasikan pembunuhan, penindasan politik, serta pengasingan warga dalam skala besar selama masa kekuasaannya.
Pada 1979, Macías digulingkan melalui kudeta militer. Dia kemudian diadili dan dieksekusi.
Pendidikan Formal Bukan Satu-satunya Catatan Sejarah
Kisah lima pemimpin tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan menuju kekuasaan tidak selalu mengikuti jalur pendidikan yang sama. Faktor sejarah, kondisi sosial, pengalaman militer, serta dinamika politik turut membentuk perjalanan karier mereka.
Meski demikian, tingkat pendidikan formal tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai kualitas kepemimpinan. Rekam jejak, integritas, kemampuan mengelola pemerintahan, serta penghormatan terhadap hukum dan hak masyarakat juga menjadi aspek penting.
Dalam konteks Indonesia, persyaratan pendidikan bagi calon presiden dan wakil presiden diatur dalam peraturan perundang-undangan. Karena itu, pengalaman negara lain perlu dipahami sesuai konteks sejarah dan sistem hukum masing-masing, bukan sebagai pembanding yang berlaku secara otomatis.

