Investor Pasar Modal Jabar Tembus 6,4 Juta, Potensi Pendanaan Ekonomi Kian Moncer
Jumlah investor pasar modal di Jawa Barat menembus 6,42 juta SID pada September 2026, tumbuh 65,35 persen sejak awal tahun dan memperkuat kontribusi ekonomi daerah.
INFOBAIK I BANDUNG, – Pertumbuhan jumlah investor pasar modal di Jawa Barat membuka peluang lebih besar bagi pendalaman pasar keuangan domestik.
Hingga September 2026, jumlah investor di provinsi tersebut mencapai 6,42 juta single investor identification (SID), meningkat 65,35 persen sejak awal tahun.
Capaian tersebut memperkuat posisi Jawa Barat sebagai salah satu kontributor utama basis investor pasar modal nasional. Peningkatan partisipasi masyarakat juga berpotensi memperluas sumber pendanaan bagi dunia usaha sekaligus mendorong masyarakat mengelola keuangan melalui instrumen investasi formal.
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Barat, Achmad Dirgantara, mengatakan kontribusi investor dari Jawa Barat mencapai sekitar 21 persen dari total investor pasar modal di Indonesia.
"Jadi kalau kita lihat kontribusi Jawa Barat ini cukup besar bagi investor atau SID di Indonesia ini. Kontribusinya kalau kita lihat di pasar modalnya kita sekitar 21 persen ya," ujar Achmad dalam kegiatan sosialisasi produk pasar modal, yakni exchange traded fund (ETF) emas, di Bandung, Kamis (22/10/2026).
BACA JUGA:; Tak Cukup Lihat Harga Saham, Investor Perlu Pahami Bisnis Perusahaan
Berdasarkan data per September 2026, jumlah investor pasar modal di Jawa Barat tercatat sebanyak 6.421.361 SID. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.136.307 merupakan investor saham.
Jumlah investor saham Jawa Barat tersebut juga setara dengan sekitar 21 persen dari total 8.000.796 investor saham secara nasional.
Besarnya basis investor di Jawa Barat menjadi salah satu modal bagi pengembangan industri pasar modal. Semakin luas partisipasi masyarakat, semakin besar pula peluang penghimpunan dana dari investor domestik untuk mendukung aktivitas ekonomi melalui mekanisme pasar keuangan.
Achmad berharap pertumbuhan investor di daerah dapat berkontribusi terhadap perkembangan industri keuangan nasional dan memperkuat peran masyarakat dalam menopang perekonomian.
"Dengan adanya penambahan ini diharapkan juga industri keuangan, pasar modal akan tambah maju dan berkembang lagi, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia juga bisa ditopang oleh warga negara Indonesia," katanya.
Investor Muda Jadi Motor Pertumbuhan
Dari sisi demografi, generasi muda menjadi kelompok yang mendominasi pertumbuhan investor pasar modal di Jawa Barat.
Achmad mengungkapkan, investor berusia di bawah 30 tahun mencakup lebih dari 54 persen dari keseluruhan investor. Sementara itu, kelompok investor berusia di bawah 40 tahun mencapai lebih dari 70 persen.
Dominasi kelompok usia produktif tersebut menunjukkan semakin luasnya keterlibatan generasi muda dalam aktivitas investasi. Perkembangan teknologi digital turut mempermudah masyarakat mengakses layanan pasar modal, termasuk pembukaan rekening dan pemantauan portofolio investasi.
Selain kemudahan teknologi, peningkatan literasi keuangan dinilai menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan jumlah investor.
Achmad menjelaskan, edukasi pasar modal dilakukan melalui kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, mulai dari regulator, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, hingga anggota bursa.
Digitalisasi yang disertai pemahaman memadai mengenai produk investasi diharapkan dapat mendorong masyarakat mengambil keputusan keuangan secara lebih terukur.
Pasalnya, pertumbuhan jumlah investor perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai risiko, karakteristik instrumen investasi, serta kemampuan menyesuaikan pilihan investasi dengan kondisi keuangan masing-masing.
76 Galeri Investasi Perkuat Literasi Keuangan
Untuk memperluas edukasi, BEI Jawa Barat mengandalkan jaringan Galeri Investasi yang tersebar di berbagai wilayah.
Saat ini, terdapat 76 Galeri Investasi di Jawa Barat yang berada di lingkungan perguruan tinggi, instansi pemerintah, hingga emiten. BEI Jawa Barat juga baru meresmikan Galeri Investasi di Universitas Cipasung, Tasikmalaya.
Keberadaan galeri tersebut menjadi salah satu sarana bagi masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai pasar modal, memahami pengelolaan keuangan, serta mengenali karakteristik berbagai instrumen investasi.
Selain mendorong partisipasi investor baru, edukasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap penawaran investasi ilegal.
Achmad menilai, pemahaman mengenai legalitas produk dan penyelenggara investasi menjadi bagian penting dari upaya memperluas inklusi keuangan.
Melalui penguatan literasi dan perluasan akses informasi, pertumbuhan investor diharapkan tidak hanya tercermin dari peningkatan jumlah rekening, tetapi juga diikuti kualitas pengambilan keputusan investasi masyarakat.
Dengan basis investor yang terus bertambah, Jawa Barat memiliki peluang untuk memperkuat perannya dalam pengembangan pasar modal nasional. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan peningkatan literasi, perlindungan investor, dan pemanfaatan instrumen pasar modal secara berkelanjutan.

