OJK: Stabilitas Keuangan Nasional Terjaga, IHSG dan Kapitalisasi Pasar Tembus Rekor All-Time High

OJK memastikan stabilitas Sektor Jasa Keuangan tetap terjaga di tengah gejolak global. IHSG cetak rekor tertinggi sepanjang masa dengan kapitalisasi pasar tembus Rp14.995 triliun, didukung kinerja ekonomi domestik yang solid dan lonjakan investor baru hingga 18,6 juta.

Oct 10, 2025 09:39 · 12 bulan lalu
OJK: Stabilitas Keuangan Nasional Terjaga, IHSG dan Kapitalisasi Pasar Tembus Rekor All-Time High
OJK: Stabilitas Keuangan Nasional Terjaga, IHSG dan Kapitalisasi Pasar Tembus Rekor All-Time High

INFOBAIK I JAKARTA, - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global yang beragam. Hal itu terungkap dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK pada 1 Oktober 2025.

Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK M. Ismail Riyadi menjelaskan, meskipun sejumlah negara utama menghadapi perlambatan, ekonomi global menunjukkan ketahanan yang lebih baik dari perkiraan awal. OECD bahkan merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi lebih kuat, didorong oleh percepatan aktivitas produksi dan perdagangan sebelum kebijakan kenaikan tarif diberlakukan.

 “Secara global, tensi perang dagang cenderung menurun. Namun, potensi bergejolak akibat ketegangan geopolitik tetap perlu diwaspadai,” ujar Ismail Riyadi, Kamis (9/10/2025).

Di Amerika Serikat, perekonomian masih stabil meski pasar tenaga kerja melemah dan inflasi tetap tinggi. The Fed pun mulai menurunkan suku bunga acuannya (Fed Fund Rate) sebesar 25 basis poin pada September 2025, dengan ekspektasi dua kali pemangkasan lagi hingga akhir tahun.

Sementara itu, Tiongkok menunjukkan tanda-tanda moderasi perekonomian, Eropa masih stagnan, dan Jepang menyatakan lebih hawkish dalam menghadapi tekanan inflasi. Kondisi tersebut mendorong minat investor global pada aset berisiko, yang turut memperkuat pasar saham dunia.

Dalam negeri menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat. PMI Manufaktur Indonesia masih berada di zona ekspansi, sementara neraca perdagangan mencatatkan surplus yang meningkat. Meski demikian, OJK menilai permintaan domestik masih perlu terus didorong agar pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan.

Pasar modal Indonesia menjadi sorotan positif. Sepanjang September 2025, IHSG menembus level tertinggi dalam sejarah di 8.126,56 poin, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp14.995 triliun pada 29 September 2025.

IHSG bulan itu ditutup di level 8.061,06 atau naik 2,94 persen (mtm) dan 13,86 persen (ytd). Hampir seluruh sektor mengalami penguatan, dengan sektor industri menjadi pendorong utama.

Likuiditas transaksi pun meningkat pesat, mencetak rekor baru rerata transaksi harian (RNTH) sebesar Rp24,02 triliun, didominasi oleh investor individu domestik. Meski begitu, investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp3,8 triliun di bulan yang sama.

Di pasar obligasi, Indeks ICBI naik 0,87 persen (mtm), didukung penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Investor asing masih mencatat net sell sebesar Rp45,76 triliun, namun secara tahunan masih net buy Rp31,45 triliun.

Sementara di industri pengelolaan investasi, nilai Asset Under Management (AUM) per akhir September 2025 mencapai Rp913,96 triliun, naik 9,15 persen (ytd). Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana juga meningkat signifikan menjadi Rp576,13 triliun, didorong oleh keterlibatan investor neto senilai Rp20,96 triliun.

Jumlah investor baru di pasar modal terus melonjak. Sepanjang tahun 2025, tercatat 3,79 juta investor baru, sehingga total investor mencapai 18,66 juta atau tumbuh 25,5 persen (ytd).

OJK juga mencatat perkembangan positif di sektor Securities Crowdfunding (SCF) dan Bursa Karbon. Hingga September 2025, terdapat 132 pengguna jasa Bursa Karbon dengan volume transaksi mencapai 1,6 juta tCO2e senilai Rp78,46 miliar.

Kinerja gemilang pasar modal dan penguatan sektor jasa keuangan mencerminkan optimisme investor terhadap perekonomian Indonesia. OJK menegaskan, koordinasi antarotoritas dan dukungan kebijakan makroprudensial akan terus diperkuat agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga di tengah dinamika global.

“Kami terus memadukan dan memperkuat koordinasi lintas lembaga agar stabilitas sektor jasa keuangan dan perekonomian nasional tetap kokoh,” tutup Ismail Riyadi.