PSI Pasang Target Ambisius 60 Kursi DPR 2029
Ketua Harian PSI Ahmad Ali menargetkan 50–60 kursi DPR RI pada Pemilu 2029. Dari Bali, PSI pasang strategi naik kelas menjadi partai papan tengah nasional.
INFOBAIK I DENPASAR,— Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mulai memetakan jalan panjang menuju Pemilu 2029 dengan target yang tak lagi defensif. Ketua Harian PSI Ahmad Ali secara terbuka menyebut ambisi partainya untuk menembus 50 hingga 60 kursi DPR RI, sebuah lompatan besar dari posisi PSI pada pemilu sebelumnya.
Pernyataan itu disampaikan Ahmad Ali saat menghadiri Rapat Koordinasi Wilayah DPW PSI Bali di Kuta Utara, Kabupaten Badung, Sabtu (24/1). Menurutnya, target tersebut bukan sekadar optimisme politik, melainkan cerminan dari ekspektasi publik yang mulai terbaca melalui berbagai survei.
“Kalau melihat respons masyarakat dan hasil survei, ekspektasinya bahkan bisa lebih besar. Tapi kami mematok target realistis sebagai partai papan tengah, yakni 50 sampai 60 kursi DPR RI,” ujarnya.
Ali menegaskan, PSI kini tidak lagi berfokus semata pada upaya lolos ambang batas parlemen. Target puluhan kursi DPR menjadi penanda bahwa partai yang identik dengan pemilih muda ini ingin naik kelas dalam peta politik nasional.
Ia menyebut, konsolidasi struktur, masuknya sejumlah figur politik nasional, serta penguatan kerja-kerja akar rumput menjadi modal utama PSI untuk bersaing lebih serius pada 2029.
Ahmad Ali secara khusus menyoroti tantangan elektoral yang dihadapi PSI. Dengan hanya satu daerah pemilihan untuk DPR RI, Bali disebut sebagai wilayah yang “tidak ramah” bagi partai baru. Meski demikian, PSI tetap membidik satu kursi DPR RI dari Pulau Dewata.
“Ini daerah sulit, tapi bukan mustahil. Target satu kursi dari Bali itu rasional, asalkan dikerjakan dengan sungguh-sungguh,” katanya.
Menurut Ali, keberhasilan di daerah-daerah dengan tingkat kesulitan tinggi justru akan menjadi tolok ukur kesiapan PSI menghadapi kompetisi nasional.
Target 60 kursi DPR RI menandai perubahan pendekatan PSI: dari partai penantang menjadi partai penentu. Ali menegaskan, kerja politik ke depan akan difokuskan pada konsistensi narasi, kaderisasi, serta kehadiran nyata di tengah masyarakat, bukan hanya mengandalkan figur populer.
“Ini bukan pekerjaan mudah, tapi politik selalu tentang keberanian membaca peluang dan kerja yang konsisten,” pungkasnya
