SBM ITB Dorong Streamlining Organisasi Berbasis Data dan Manusia

SBM ITB menggelar HCM Talks ke-5 membahas organizational streamlining sebagai strategi keberlanjutan bisnis melalui Lean HR dan People Analytics, menghadirkan praktisi global, akademisi, dan pimpinan BUMN.

Feb 27, 2026 14:35 · 7 bulan lalu
SBM ITB Dorong Streamlining Organisasi Berbasis Data dan Manusia

INFOBAIK I JAKARTA, — Di tengah tekanan ketidakpastian global dan tuntutan efisiensi, Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) menegaskan bahwa organizational streamlining bukan lagi soal merampingkan struktur organisasi, melainkan strategi transformatif untuk memastikan keberlanjutan bisnis jangka panjang.

Gagasan tersebut mengemuka dalam HCM Talks ke-5 yang digelar Jumat (27/2/2026), sebuah forum diskusi strategis yang mempertemukan praktisi industri dan akademisi untuk membedah masa depan pengelolaan human capital melalui pendekatan Lean HR dan People Analytics.

Mengusung tema “Navigating the Future of Human Capital: Business and Organizational Streamlining through Lean HR and People Analytics”, forum ini menjadi ruang refleksi kritis atas praktik streamlining yang selama ini kerap disalahartikan sebagai sekadar restrukturisasi atau pengurangan organisasi.

Streamlining sebagai Enabler, Bukan Tujuan Akhir

Associate Partner McKinsey & Company, Martin Santoso, membuka diskusi dengan menekankan bahwa streamlining seharusnya berperan sebagai enabler transformasi, bukan tujuan akhir dari perubahan organisasi.

Menurutnya, organisasi yang berhasil melakukan streamlining adalah mereka yang mampu menggunakan proses tersebut untuk memperkuat fondasi bisnis, meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan, dan menyiapkan organisasi agar lebih adaptif menghadapi masa depan.

“Organizational streamlining bukan tentang menggabungkan atau memisahkan unit kerja, melainkan bagaimana organisasi bertransisi menuju optimalisasi yang mendukung keberlanjutan bisnis,” ujarnya.

Tantangan Streamlining di BUMN: Dari Struktur ke Nilai Tambah

Sudut pandang strategis tersebut diperkaya oleh Priyanto Rudito, Chairman Nation Brand Team Kementerian Pariwisata, yang memperkenalkan kerangka Getting Better, Broader, and Bolder sebagai peta jalan transformasi organisasi, khususnya di lingkungan BUMN.

Ia menegaskan bahwa transformasi tidak dapat dimulai dari ekspansi semata, melainkan harus diawali dengan penguatan fundamental bisnis dan operational excellence yang berdampak langsung pada pengelolaan human capital.

Dari sisi praktisi, Mia Khrishna Anggaraini, SVP Business Transformation and Optimization Pertamina (Persero), membagikan pengalaman transformasi struktural perusahaan energi nasional tersebut, mulai dari fase pra-2018 hingga pembentukan holding dan subholding.

Menurutnya, streamlining di Pertamina dirancang sebagai proses menyatukan kepentingan bisnis, sumber daya manusia, dan pemangku kepentingan agar organisasi tetap stabil sekaligus lincah.

“Fondasi harus diperkuat terlebih dahulu. Streamlining bukan sekadar aksi korporasi, tetapi upaya membangun organisasi yang solid, adaptif, dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Akademisi–Industri: Kolaborasi yang Tak Terelakkan

Dari perspektif akademik, Ketua Kelompok Keahlian Strategic Decision Making and Negotiation SBM ITB, Prof. Utomo Sarjono Putro, menilai bahwa transformasi berbasis data dan struktur menuntut kolaborasi erat antara kampus dan industri, terutama BUMN.

Ia menekankan bahwa kompleksitas perubahan organisasi di tengah ketidakpastian global membuka peluang riset terapan yang berdampak nyata.

“Akademisi memiliki metodologi dan kapasitas riset, sementara praktisi memiliki konteks dan pengalaman lapangan. Kolaborasi keduanya dapat melahirkan inovasi yang relevan dan aplikatif,” ujarnya.

Sementara itu, moderator diskusi sekaligus anggota Kelompok Keahlian People and Knowledge Management SBM ITB, Achmad Fajar Hendarman, menyoroti bahwa faktor manusia kerap menjadi tantangan terbesar dalam streamlining.

Menurutnya, perubahan struktur tanpa perubahan mindset hanya akan menghasilkan resistensi, bukan transformasi.

“Tantangannya bukan memangkas struktur, melainkan memperbaiki proses bisnis dan cara berpikir. Transformasi sejati menyentuh aspek manusia, persepsi, dan budaya organisasi,” jelasnya.

Streamlining sebagai Transisi Menuju Keberlanjutan

Forum ini menyimpulkan bahwa organizational streamlining adalah proses transisi strategis yang berfokus pada optimalisasi proses, penguatan kapabilitas SDM, dan penciptaan model operasional baru—bukan pengurangan manfaat karyawan.

Melalui pendekatan Lean HR dan People Analytics, organisasi diharapkan mampu menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan, sekaligus menjawab tantangan bisnis masa depan dengan lebih adaptif dan berbasis data.