OJK Bidik Pembiayaan Rp50 Miliar untuk Ekspansi Perkebunan Kopi Jabar

OJK Jawa Barat menilai penguatan akses pembiayaan perbankan berpotensi mendukung pengembangan 1.000 hektare perkebunan kopi di Kabupaten Bandung dengan kebutuhan dana Rp50 miliar.

Oct 27, 2026 15:19 · 2 jam lalu
 12
OJK Bidik Pembiayaan Rp50 Miliar untuk Ekspansi Perkebunan Kopi Jabar
OJK Bidik Pembiayaan Rp50 Miliar untuk Ekspansi Perkebunan Kopi Jabar

INFOBAIK I KAB BANDUNG – Penguatan akses perbankan menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan skala usaha perkebunan kopi Jawa Barat, seiring peningkatan produksi dan terbukanya peluang pasar ekspor. 

Pengembangan perkebunan kopi hingga 1.000 hektar di Kabupaten Bandung berpotensi membutuhkan pembiayaan sekitar Rp50 miliar, berdasarkan asumsi kebutuhan modal Rp50 juta per hektar.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat Darwisman mengatakan, potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui kolaborasi antara regulator, perbankan, pemerintah daerah, dan pelaku usaha agar pengembangan komoditas kopi dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.

Menurut Darwisman, produksi kopi Jawa Barat pada tahun 2026 mencapai 26.300 ton, meningkat 23,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut memperkuat posisi Jawa Barat sebagai salah satu sentra produksi kopi nasional.

Jawa Barat juga memiliki keunggulan dalam pengembangan kopi Arabika yang dibudidayakan di kawasan dataran tinggi. 

Karakteristik geografis tersebut menjadi modal untuk mengembangkan kopi spesial yang memiliki nilai tambah lebih tinggi./

“Karakteristik geografis tersebut menjadi salah satu modal untuk mengembangkan kopi spesial dengan nilai tambah yang lebih tinggi,” kata Darwisman, Selasa (27/10/2026).

BACA JUGA: OJK Perketat Pengawasan, Kerugian Konsumen Rp82,96 Miliar Telah Diganti PUJK

Peluang pengembangan pasar turut tercermin dari pelepasan ekspor kopi Arabika specialty sebanyak 19,2 ton dan kopi Robusta sebanyak 16,2 ton dengan total 38,4 ton. 

Pengiriman tersebut menunjukkan potensi pelaku usaha kopi daerah untuk memperluas jangkauan pasar, sekaligus membuka ruang peningkatan skala produksi.

Untuk merealisasikan potensi tersebut, Darwisman menilai akses pembiayaan perlu diintegrasikan dengan penguatan kapasitas produksi dan kepastian pasar. Dengan dukungan permodalan yang sesuai, petani diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, memperluas lahan, serta memenuhi kebutuhan pembeli secara berkelanjutan.

Dalam pengembangan perkebunan kopi di Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, potensi luas lahan mencapai 1.000 hektare. Dengan asumsi kebutuhan pembiayaan sebesar Rp50 juta per hektare, kebutuhan pendanaan untuk pengembangan tersebut diperkirakan mencapai Rp50 miliar.

Meski demikian, Darwisman menegaskan bahwa penyaluran pembiayaan harus memperhatikan kelayakan usaha dan kemampuan pengembalian kredit. 

Pasalnya, dana yang disalurkan perbankan berasal dari masyarakat yang menyimpan tabungan maupun deposito sehingga pengelolaannya harus dilakukan secara cermat.

Oleh karena itu, pembiayaan sektor perkebunan perlu didukung penilaian terhadap prospek pasar, produktivitas kebun, arus kas usaha, dan kemampuan debitur memenuhi kewajibannya, pungkasnya